Menyalakan Kembali Obor Pattimura: Ikhtiar Budaya Lelly Majo Merawat Sejarah dari Saparua
JAKARTA,BalleBale.com -|Di Pulau Saparua, setiap 15 Mei, nyala obor kembali dihidupkan. Cahaya itu bukan hanya sekedar malam, melainkan membangunkan wawasan tentang keberanian Thomas Matulessy sang Kapitan Pattimura yang pada tahun 1817 memimpin rakyat Maluku menantang kolonialisme. Di tengah proses adat yang khidmat itulah, Lelly Majo menemukan panggilan hidupnya.
Perjalanan Lelly di dunia seni bermula dari panggung teater, berlanjut ke layar kaca, hingga akhirnya memilih berkarya dari balik layar. Namun, langkahnya kini tidak lagi semata-mata mengejar karya sinema. Ia membawakan sebuah ikhtiar budaya: menghidupkan kembali jejak petualangan Pattimura melalui sebuah film kolosal yang diharapkan mampu mengembalikan sejarah ke ruang mengingat bangsa.
Sejak tahun 2019, Lelly rutin mengikuti ritual Semangat Obor Pattimura di Saparua. Seusai prosesnya, ia menelusuri situs-situs perjuangan yang menjadi saksi sejarah perlawanan rakyat Maluku. Di sanalah kegelisahan itu tumbuh. Benteng, jejak perjuangan, dan ruang-ruang sejarah tampak sunyi, sebagian belum terawat sebagaimana mestinya.
Baginya, kesunyian itu bukan sekadar persoalan bangunan tua, melainkan merupakan ingatan bahwa kolektif bangsa perlahan mulai memudar. Dari itulah lahirlah tekad untuk menghadirkan film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan sejarah, membangkitkan nasionalisme, sekaligus menghubungkan generasi muda dengan akar perjuangan bangsanya.
Lelly meyakini bahwa sebuah film dapat melahirkan dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar pencapaian artistik. Ketika masyarakat kembali mengenal perjuangan Pattimura, perhatian terhadap pelestarian situs-situs sejarah diyakini akan tumbuh. Kawasan bersejarah dapat berkembang menjadi pusat edukasi dan wisata budaya yang menggerakkan perekonomian masyarakat Saparua.
Persiapan produksi pun telah dilakukan. Konsep cerita, proposal, hingga kajian sejarah telah disusun dengan harapan mendapat dukungan pemerintah serta para investor yang memiliki kepedulian terhadap warisan budaya Indonesia.
Harapan itu mulai menemukan titik terang ketika Lelly bertemu Menteri Kebudayaan dan jajaran menteri. Pemerintah memberikan respon positif terhadap pelestarian sejarah Pattimura, meski saat ini memprioritaskan pelestarian rumah masa kecil Thomas Matulessy di Negeri Haria agar dapat ditetapkan sebagai museum.
Bagi Lelly, museum bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah ekosistem budaya. Ia membayangkan kawasan tersebut dilengkapi galeri cendera mata, pusat informasi sejarah, relief perjuangan, hingga miniatur pertempuran, sehingga menjadi destinasi wisata sejarah yang hidup sekaligus menggerakkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui film yang tengah diperjuangkannya, Lelly juga ingin memahami pemahaman sejarah. Selama ini masyarakat lebih mengenal nama Pattimura, padahal nama asli sang pahlawan adalah Thomas Matulessy. Sementara “Pattimura” merupakan gelar kehormatan yang diberikan Raja Sahulau kepada pemimpin pasukan perlawanan tertinggi atas keberanian dan kepemimpinannya menghadapi Belanda.
Film itu juga diharapkan menghadirkan kisah perjuangan secara utuh tentang Martha Christina Tiahahu, sebelas raja yang bersatu, para pejuang Maluku, hingga keberhasilan merebut Benteng Duurstede pada tahun 1817. Sebab sejarah besar tidak pernah dibangun oleh satu tokoh semata, melainkan oleh semangat persatuan yang menyatukan rakyat dan para pemimpin adat.
Pada akhirnya, impian Lelly Mayo bukan sekedar menghadirkan sebuah film layar lebar. Ia ingin menyalakan kembali obor yang telah diwariskan lebih dari dua abad silam: obor keberanian, persatuan, dan cinta tanah air. Generasi mendatang tidak hanya mengenalkan nama Pattimura sebagai pahlawan nasional, tetapi juga memahami nilai-nilai kepemimpinan, pengorbanan, dan pengabdian yang diwariskannya kepada Indonesia.