Enam Gol, Satu Pesan: Ketika Maesa Pararaider Menemukan Irama Permainannya
JAKARTA,BalleBale.com -|Skor 6-0 memang tampak mencolok di papan pertandingan. Namun, di Lapangan Sintetis 2 Pancoran Soccer Field, Jakarta Selatan, Minggu (2/8/2026), kemenangan telak Maesa Pararaider atas Persija Barat pada lanjutan Liga Soeratin U-15 Piala Gubernur 2026 sejatinya bukan hanya soal pesta gol. Ia menjadi cermin dari sebuah tim yang mulai menemukan ritme, kepercayaan diri, sekaligus kematangan bermain.
Sejak peluit awal dibunyikan, Maesa langsung mengambil alih kendali. Baru satu menit pertandingan berjalan, Muhammad Rado Al Ghifari melepaskan tendangan keras kaki kiri dari luar kotak penalti yang mengoyak gawang Persija Barat. Gol cepat itu bukan sekadar membuka keunggulan, tetapi juga mengubah arah pertandingan.
Maesa terus menekan. Erico Jati Rangga memperbesar keunggulan pada menit kesembilan, disusul penyelesaian tenang Kaffa Al Maliki Siswanto tujuh menit berselang. Sebelum babak pertama usai, Rado kembali menunjukkan naluri tajamnya. Dua gol tambahan pada menit ke-26 dan ke-30 memastikan hattrick sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai sosok paling bersinar di lapangan. Dzikri Muhammad Nugraha kemudian melengkapi kemenangan menjadi 6-0 melalui gol pada awal babak kedua.
Namun, di balik tiga gol yang ia lesakkan, Rado justru memilih berbicara tentang proses, bukan pencapaian. Siswa SMAN 19 Ciracas yang mengidolakan gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, itu menganggap keberhasilannya lahir dari kerja kolektif.
“Semuanya hasil kerja keras, kerja sama tim, dukungan orang tua, dan tentunya izin Allah,” ujarnya dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Bagi Rado, Liga Soeratin bukan sekadar tempat berburu gol. Kompetisi ini adalah ruang belajar. Ia menyadari perjalanan sebagai pesepak bola masih panjang dan masih banyak sisi permainan yang perlu diperbaiki.
“Saya merasa masih banyak kekurangan yang harus terus diperbaiki. Beruntung bisa bermain di kompetisi panjang seperti ini karena bisa menghadapi lawan-lawan yang bagus,” tuturnya.

Di kubu Persija Barat, pertandingan ini menjadi pelajaran yang mahal. Pelatih Mardy Mustofa mengakui timnya kehilangan keseimbangan di lini belakang. Absennya bek andalan Alwi akibat akumulasi kartu kuning membuat organisasi pertahanan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi Candra Hadi Suseno yang belum sepenuhnya bugar turut memperberat situasi.
Kesulitan Persija Barat semakin bertambah ketika kiper utama Gabriel Putra Diansyah terlambat tiba di lapangan sehingga posisi penjaga gawang pada menit-menit awal harus diisi Alif Faturohman. Situasi tersebut membuat tim kesulitan membangun kepercayaan diri sejak awal pertandingan.
Sebaliknya, Pelatih Maesa Pararaider Ferry Siswanto melihat kemenangan besar ini sebagai buah dari evaluasi yang terus dilakukan setelah laga-laga sebelumnya. Menurutnya, para pemain tampil lebih disiplin dan efektif dalam memanfaatkan peluang.
“Persija tampil berbeda dibanding pertandingan sebelumnya. Namun yang terpenting, anak-anak berhasil menjalankan hasil evaluasi. Finishing kami jauh lebih klinis,” ujar Ferry.
Kemenangan ini membawa Maesa Pararaider naik ke posisi kedua klasemen Grup Timur dengan koleksi 13 poin, hanya terpaut dua angka dari Batavia FC yang masih sempurna dengan 15 poin dari lima pertandingan. Sementara Persija Barat tertahan di posisi ketiga dengan 10 poin.
Kompetisi memang masih panjang. Namun, sore itu di Pancoran, Maesa Pararaider menunjukkan bahwa kemenangan besar bukan hanya dibangun oleh ketajaman seorang penyerang. Ia lahir dari keberanian untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan bermain sebagai sebuah tim. Di tengah perjalanan panjang Liga Soeratin, itulah modal yang sering kali lebih berharga daripada sekadar selisih enam gol.|Foto : Prass