Drone 24 Jam Imigrasi Siap Awasi Jalur Tikus Perbatasan RI
Jakarta, Ballebale.com – Direktorat Jenderal Imigrasi mulai menyiapkan langkah besar dalam memperkuat pengawasan wilayah perbatasan Indonesia.
Bersama Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Imigrasi mengembangkan sistem “Pagar Digital”, yakni teknologi patroli udara berbasis drone yang akan mengawasi ribuan kilometer wilayah perbatasan secara real time.
Program ini disiapkan untuk mempersempit ruang gerak pelintas ilegal, jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), penyelundupan manusia, hingga berbagai kejahatan lintas negara yang selama ini memanfaatkan jalur-jalur tidak resmi.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan ide tersebut muncul setelah dirinya melihat perkembangan teknologi pengamanan perbatasan di sebuah pameran pertahanan di Singapura.
Namun, menurut dia, hampir seluruh teknologi yang dipamerkan berasal dari luar negeri.
“Saya berpikir, kenapa Indonesia tidak memiliki teknologi pengawasan buatan sendiri? Padahal kita memiliki SDM yang sangat kompeten,” tutur Hendarsam di Jakarta, Rabu (1/7).
“Karena itu kami menggandeng ITB untuk membangun sistem pengawasan yang benar-benar disesuaikan dengan karakter wilayah Indonesia,” lanjutnya.
Perbatasan RI Masih Rawan Jalur Tikus
Indonesia memiliki garis perbatasan darat sepanjang 3.111 kilometer yang tersebar di Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.
Namun, pengawasan wilayah tersebut masih menghadapi tantangan karena keterbatasan infrastruktur.
Saat ini hanya terdapat 18 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan 38 Pos Lintas Batas (PLB), sementara sebagian besar jalur perlintasan ilegal berada di luar kawasan resmi.
Data Direktorat Jenderal Imigrasi menunjukkan sepanjang Januari hingga April 2026 terdapat 679.867 pelintas resmi melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) darat.
Di luar angka itu, pemerintah masih menghadapi ancaman aktivitas ilegal yang berkaitan dengan perdagangan orang, penyelundupan manusia, serta penyelundupan barang.
Drone Terbang 24 Jam
Melalui proyek “Pagar Digital”, Imigrasi akan memanfaatkan drone hasil pengembangan ITB yang diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia.
Sistem tersebut menggunakan dua jenis drone. Drone High Altitude Long Endurance (HALE) akan terbang selama 24 jam menggunakan tenaga panel surya untuk memantau area perbatasan dari udara.
Sementara Drone Mantis akan bergerak mendekati titik yang terdeteksi mencurigakan untuk melakukan identifikasi visual secara lebih rinci.
Menurut Hendarsam, sistem ini tidak menggantikan petugas di lapangan, tetapi menjadi “mata udara” yang mempercepat pengambilan keputusan.
“Ketika drone mendeteksi aktivitas mencurigakan di jalur tikus, koordinat langsung dikirim ke petugas. Respons menjadi jauh lebih cepat dibandingkan patroli biasa karena petugas sudah mengetahui lokasi yang harus didatangi,” ujarnya.
Bidik Kemandirian Teknologi Nasional
Selain memperkuat pengawasan perbatasan, proyek ini juga diarahkan menjadi langkah strategis membangun kemandirian teknologi keamanan nasional.
Hendarsam menegaskan Indonesia tidak boleh terus bergantung pada sistem pengawasan dari luar negeri.
“Kolaborasi Imigrasi, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kedaulatan negara. Kami ingin sistem pengawasan dibangun oleh teknologi anak bangsa sehingga lebih mandiri, adaptif, dan mampu menghadapi ancaman kejahatan lintas negara,” katanya.
Pada tahap awal, implementasi sistem akan diprioritaskan di wilayah perbatasan Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur, sebelum dikembangkan ke kawasan laut seperti Kepulauan Riau dan Batam yang juga menjadi titik rawan pelintasan ilegal. (LOL)