Dari Runway ke Layar Lebar, Lenny Ivylen Tak Berhenti Merancang Mimpi
JAKARTA,Ballebale.com-|Ada orang yang memilih panggung untuk dikenal. Ada pula yang lebih nyaman berada di belakang panggung, memastikan setiap langkah yang tampil di hadapan mata publik membawa cerita.
Lenny Ivylen termasuk yang kedua.
Sejak menamatkan pendidikan di ESMOD pada 2000, perempuan kelahiran Malang, 5 Juni 1978, itu menekuni dunia mode sebagai perancang busana. Dunia yang sejak kecil sesungguhnya telah akrab dengannya melalui kegemaran pada seni dan fesyen.
Namun, Lenny tidak memilih menjadi model ataupun mengejar gemerlap kontes kecantikan. Ia justru memilih menjadi orang yang menentukan bagaimana seorang model tampil di atas panggung: melalui busana yang dirancangnya.
Pilihan itu perlahan membawanya menyusuri perjalanan panjang. Dari melayani pelanggan di sekitar Malang, Jawa Timur, karya-karya Lenny kemudian merambah berbagai daerah di luar Jawa. Dua puluh enam tahun berlalu, dunia mode telah menjadi semacam ruang panjang tempat ia menguji kreativitas, ketekunan, sekaligus keyakinannya terhadap karakter desain.
Bagi Lenny, menjadi perancang busana bukan semata soal membuat pakaian terlihat indah. Ada proses panjang yang harus dilalui untuk membangun identitas sebagai seorang desainer.
Karena itu, ketika berbicara tentang perkembangan industri mode hari ini, Lenny melihat ada perubahan besar dibandingkan masa ketika ia mengawali karier.
“Sekarang semakin banyak desainer muda berbakat. Tapi menurut aku, beberapa tidak sekuat dulu karakter desain dan konsepnya,” ujar Lenny saat dihubungi melalui telepon.
Ia mengenang masa ketika menyandang predikat desainer tidak semudah sekarang. Dahulu, menurut dia, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk pengalaman menggelar pertunjukan busana secara mandiri.

Lenny pernah menjadi anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Untuk membuktikan kemampuannya, ia menggelar show tunggal bertema haute couture atau adibusana dengan melibatkan sekitar 60 model.
Pertunjukan itu bahkan digelar secara maraton di tiga kota: Jakarta, Surabaya, dan Malang.
Sejumlah nama yang kala itu dikenal sebagai model dan artis ikut mengenakan rancangannya. Di antaranya Catherine Wilson, Indah Kalalo, Karenina, Dinna Olivia, Sigi Wimala, Peggy Melati Sukma, hingga Maudy Koesnaedi ketika pertunjukan berlangsung di Jakarta.
“Dulu kriteria menjadi desainer tidak mudah, cukup berat. Sekarang mudah sekali orang menyebut dirinya sebagai desainer,” katanya.
Jejak Lenny di dunia mode pun tak berhenti pada pertunjukan tunggal. Ia pernah terlibat dalam ESMOD Roadshow di Bandung dan Jakarta, Surabaya Fashion Parade, serta sejumlah perhelatan mode di Malang.
Pada awal 2000-an, ia juga dipercaya merancang busana untuk sejumlah figur publik, antara lain Peggy Melati Sukma dan Maudy Koesnaedi. Namanya turut tercatat dalam perhelatan Bali Fashion Week.
Bagi Lenny, perjalanan panjang itu bukan sekadar deretan acara. Ada cita-cita yang sejak dulu ia rawat.
“Pastinya jadi perancang busana yang mapan, pebisnis yang sangat dikenal berbagai kalangan,” ujarnya sembari tertawa malu.
Kini, setelah lebih dari dua dekade berkawan dengan kain, pola, jarum, panggung, dan gemerlap industri mode, Lenny rupanya masih menyimpan keinginan lain.
Ia ingin mencoba dunia film.
“Main film, Mas. Aku berharap banget masih ada kesempatan di usia yang enggak muda. Tapi penampilan tetap anak kuliahan kan, Mas,” katanya, berseloroh.
Kalimat itu terdengar ringan. Namun, di balik candanya terselip satu hal yang barangkali menjadi benang merah perjalanan Lenny: keinginan untuk terus mencoba.
Mode telah memberinya panggung selama 26 tahun. Kini, ia mungkin sedang menyiapkan satu panggung lain layar lebar, dengan cerita yang berbeda.