Nanik Deyang Mundur dari Kepala BGN, Akui Trauma Pegang Anggaran Ratusan Triliun
JAKARTA, Ballebale.com – Dinamika kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) kembali berguncang. Setelah hanya menjabat selama 45 hari, Nanik S Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN dengan alasan kesehatan, khususnya penyakit jantung. Posisinya kini digantikan oleh Sudaryono. Namun, di balik alasan medis tersebut, terungkap sebuah narasi kelam tentang tekanan psikologis ekstrem yang dialami Nanik akibat beban tanggung jawab mengelola anggaran negara yang masif untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, Naniek Sudaryati Deyang, pada Rabu (22/7/2026), mantan kepala lembaga tersebut secara blak-blakan mengakui bahwa ia mengalami “trauma” dalam menangani keuangan negara. Baginya, setiap keputusan fiskal bukan sekadar administrasi, melainkan pertaruhan integritas yang membuatnya hidup dalam kecemasan konstan.
“Menjaga uang besar agar tersalurkan dengan benar rasanya seperti berdiri di tebing jurang yang curam. Meleng sedikit saja, kita bisa terjerembab. Kekacauan operasional di BGN mungkin masih bisa saya atasi, tetapi memegang anggaran sebesar itu adalah sumber trauma terbesar saya,” tulis Nanik, menggambarkan betapa mencekamnya posisi yang diembannya.
Prosedur Birokrasi sebagai Benteng Pertahanan Diri
Tekanan tersebut berdampak langsung pada gaya kepemimpinan Nanik. Ia mengaku menerapkan mekanisme pertahanan diri berupa kolaborasi tanda tangan wajib untuk menghindari tuduhan penyalahgunaan wewenang atau kesalahan sepihak. Tidak ada satu pun dokumen anggaran penting yang ia tandatangani sendiri tanpa kehadiran dua wakil kepala badan.
“Saking takutnya saya memegang amanah uang rakyat, saya tidak mau menandatangani apa pun secara tunggal. Harus ada dua wakil kepala yang ikut memaraf baru saya berani membubuhkan tanda tangan. Bahkan, ketika sekretaris pribadi membawa tumpukan dokumen, saya sudah merasa panik, badan menjadi panas dingin, hingga akhirnya saya ambruk,” jelasnya.
Pengakuan ini menyoroti sisi gelap dari akselerasi program strategis nasional: ketiadaan waktu yang cukup bagi pejabat untuk beradaptasi dengan kompleksitas sistem pengadaan dan akuntabilitas publik, sehingga memicu stres akut.
Teror Digital dan Keputusan “Angkat Bendera Putih”
Selain beban administratif, Nanik juga mengungkapkan adanya gangguan psikologis berupa teror melalui telepon seluler. Gangguan ini dinilai memperparah kondisi jantungnya. Keputusan untuk mengganti nomor telepon dan mundur dari jabatan dianggap sebagai langkah penyelamatan diri.
“Capai diteror kanan-kiri dan akhirnya saya membuang nomor HP lama ternyata menjadi 50 persen dari obat jantung saya. Rasanya lebih lega. Akhirnya, saya memilih untuk angkat bendera putih,” tukasnya.
Mundurnya Nanik setelah kurang dari dua bulan menjabat menjadi preseden penting bagi pemerintah. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan anggaran, tetapi juga pada kesiapan mental dan sistem pendukung bagi para eksekutor di lapangan.
Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pengunduran diri Nanik dan menunjuk Sudaryono untuk melanjutkan tugas berat memastikan gizi merata bagi generasi muda Indonesia, dengan harapan stabilitas kepemimpinan dapat segera tercipta.