Gula Berlebih Sejak Dini, Ancaman Senyap bagi Generasi Indonesia
JAKARTA,Ballebale.com — Ancaman kesehatan serius tengah mengintai generasi muda Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap temuan yang mengkhawatirkan: semakin banyak anak usia Sekolah Dasar (SD) memiliki kadar gula darah di atas normal. Kondisi ini menjadi sinyal awal meningkatnya risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, serangan jantung, stroke, hingga gagal ginjal ketika mereka memasuki usia dewasa.
“Anak-anak SD itu kadar gula darahnya sudah tinggi. Padahal seharusnya kadar gula darah anak-anak itu normal karena aktivitasnya banyak,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, seperti dikutip dari Antara.
Menurut Nadia, Diabetes Melitus (DM) merupakan mother of disease karena dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh dan menjadi pemicu berbagai penyakit kronis. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan regulasi untuk mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) sebagai langkah pencegahan.
Peringatan Kemenkes tersebut seolah menemukan penjelasan dari hasil riset nasional terbaru yang dilakukan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba) bekerja sama dengan Pikiran Rakyat Media Network (PRMN).
Melalui riset berbasis Journalism Precision terhadap 2.150 orang tua balita, penelitian itu menemukan bahwa 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan anak. Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak hampir satu dekade lalu telah menegaskan bahwa kental manis bukanlah produk susu yang diperuntukkan bagi pemenuhan gizi anak.
Mayoritas anak yang menjadi objek penelitian berusia 1–3 tahun, fase emas pertumbuhan yang membutuhkan asupan gizi seimbang untuk mendukung perkembangan otak, tulang, dan sistem kekebalan tubuh.
“Penelitian ini berlandaskan asumsi bahwa banyak orang tua yang salah kaprah dan menilai kental manis adalah bagian dari susu pertumbuhan. Padahal kandungan gizinya rendah dan lebih banyak mengandung gula,” ujar Ketua Tim Peneliti Fikom Unisba, Firmansyah.
Yang menarik, sebagian besar responden merupakan lulusan perguruan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa kesalahan persepsi mengenai kental manis tidak semata-mata dipengaruhi tingkat pendidikan, melainkan juga budaya keluarga, kebiasaan yang diwariskan antargenerasi, pertimbangan ekonomi, serta kuatnya pengaruh iklan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Jika kedua temuan tersebut dibaca secara bersamaan, terlihat benang merah yang patut menjadi perhatian. Paparan gula berlebih sejak usia balita, termasuk melalui konsumsi kental manis yang dijadikan pengganti susu, berpotensi membentuk pola konsumsi yang kurang sehat hingga anak tumbuh besar. Selain berisiko menyebabkan kelebihan asupan gula, praktik tersebut juga membuat anak kehilangan kesempatan memperoleh nutrisi penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal.
Fenomena ini menjadi alarm bagi semua pihak. Upaya pemerintah membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak tidak akan efektif tanpa perubahan pemahaman di tingkat keluarga. Literasi gizi perlu terus diperkuat agar orang tua mampu membedakan produk pangan berdasarkan fungsi dan kandungan gizinya, serta tidak lagi menjadikan kental manis sebagai sumber nutrisi utama bagi anak.
Tanpa perubahan pola konsumsi sejak dini, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan beban penyakit tidak menular pada masa mendatang. Investasi terbaik untuk mencegahnya bukan hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga dimulai dari pilihan makanan dan minuman yang diberikan kepada anak setiap hari.