Masih Sering Dianggap Sebagai Susu, PP Muslimat NU dan YAICI Sosialisasi Bahaya Kental Manis bagi Anak
BANDUNG BARAT,Ballebale.com — Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bekerjalb sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) kembali menggelar edukasi gizi bagi para kader. Kegiatan sosialisasi pada Senin, 20 Juli 2026 melibatkan sekitar 50 kader PC Muslimat NU Kabupaten Bandung Barat.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan literasi gizi kader dalam rangka meluruskan persepsi masyarakat mengenai kental manis yang kerap disalahartikan sebagai susu bagi balita.
Upaya ini menjadi bentuk komitmen nyata PP Muslimat NU dan YAICI dalam mendukung program pemerintah mempercepat penurunan angka stunting. Terlebih, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat masih menyentuh angka 30,8 persen jauh melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 19,8 persen.
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Sofihara, menyoroti tingginya angka tersebut dan menegaskan bahwa tingginya konsumsi gula pada balita menjadi salah satu pemicu utama masalah gizi buruk.
“Konsumsi gula dengan gizi anak itu sangat berhubungan sekali. Kalau seorang anak sudah mengonsumsi gula terlalu banyak, otomatis dia merasa kenyang sehingga tidak mau lagi mengonsumsi makanan bergizi lainnya. Itulah yang menyebabkan salah satu terjadinya gizi buruk dan stunting,” ujar dr. Erna.
“Target nasional sebenarnya ingin menekan stunting hingga 14 persen, tetapi kenyataannya masih tinggi. Di Bandung Barat sendiri angkanya sudah di atas rata-rata nasional,” tambahnya.
Selain persoalan stunting, rendahnya literasi gizi masyarakat masih menjadi tantangan mendasar. Sekjen YAICI, Satria Yudistira menegaskan bahwa edukasi di wilayah Jawa Barat, khususnya Bandung Barat, harus terus dilakukan secara berkelanjutan karena kekeliruan persepsi mengenai kental manis sudah mengakar sangat lama.
Berdasarkan data survei terbaru dari Universitas Islam Bandung (Unisba), sebanyak 66,7 persen masyarakat di Indonesia masih beranggapan bahwa kental manis adalah susu. Dari angka tersebut, wilayah Jawa Barat menyumbang tingkat salah persepsi tertinggi, yakni sekitar 24 hingga 25 persen.
Satria menjelaskan latar belakang penyebab tingginya salah persepsi ini di tengah masyarakat. “Edukasi ini tidak bisa sekali selesai, harus berkelanjutan. Kekeliruan menganggap kental manis sebagai susu ini sebenarnya sudah terjadi selama hampir 100 tahun. Logikanya, orang tua tidak akan memberikan sirup berwarna merah atau kuning kepada balitanya. Namun, kemungkinan memberikan kental manis sangat tinggi karena warnanya putih, aromanya harum, dan rasanya mirip susu,” ungkap Satria.
“Itulah mengapa kami kembali ke Jawa Barat dan berkolaborasi dengan Muslimat NU. Dalam edukasi gizi, tidak bisa hanya ibunya saja yang paham, tetapi anak-anak hingga cucu-cucunya juga harus paham,” lanjutnya.
Kader-kader yang telah dibekali dan dikukuhkan ini diharapkan dapat langsung menjangkau lingkungan terdekat mereka. “Harapannya, kader-kader Muslimat NU yang sudah dikukuhkan ini akan turun langsung ke masyarakat. Mereka memulainya dengan mengedukasi keluarga sendiri, lalu ke lingkungan tetangga, dan diharapkan pesan edukasi gizi ini bisa terus berkembang meluas,” pungkas Satria.
Melalui jaringan kader Muslimat NU yang kuat dan tersebar hingga ke pelosok desa, sinergi lintas sektor ini optimistis dapat mewujudkan masyarakat yang lebih teredukasi serta mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.