Dihina Karena Disabilitas, Resto Ayam Mashendy Pecat Karyawan
JAKARTA, Ballebale.com – Sebuah insiden perundungan terhadap penyandang disabilitas di ruang publik kembali mencoreng kesadaran masyarakat akan inklusivitas. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada Resto Ayam Mashendy di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, setelah seorang karyawannya kedapatan mengejek dan menirukan gaya seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) yang sedang berkunjung bersama ibunya.
Insiden ini terungkap melalui video viral yang diunggah oleh sang ibu, Lia, di akun Instagram @taurus_lia12 pada Selasa (21/7/2026). Dalam rekaman tersebut, Lia terlihat emosional saat memeriksa rekaman CCTV bersama manajemen resto. Ia menunjukkan betapa sakitnya hati seorang ibu ketika melihat anaknya, yang sudah berjuang keras menghadapi keterbatasan fisik, justru menjadi bahan tertawaan oknum pegawai.
“Anak saya diledek, dicela, bahkan gerak-geriknya ditirukan dengan tawa yang menyakitkan. Saya tahu anak saya berkebutuhan khusus, tetapi bukan berarti ia layak diperlakukan seperti itu. Kami datang untuk makan, bukan untuk mencari masalah atau meminta belas kasihan. Ini soal martabat,” ujar Lia dalam videonya dengan suara bergetar menahan amarah.
Rekaman CCTV menjadi saksi bisu yang tak terbantahkan. Terlihat jelas seorang karyawan, yang kemudian diidentifikasi sebagai Defrizal, tidak hanya tersenyum sinis, tetapi juga secara aktif menirukan gerakan anak tersebut sambil tertawa bersama rekan-rekannya di area dapur depan. Sikap apatis karyawan tersebut saat dikonfrontasi langsung oleh Lia semakin memicu kemarahan warganet yang menilai adanya degradasi empati yang parah.
Menyadari beratnya pelanggaran etika dan dampak psikologis yang ditimbulkan, pihak Resto Ayam Mashendy bergerak cepat. Melalui akun resmi @ayammashendy, manajemen merilis pernyataan permintaan maaf publik dan mengumumkan sanksi tegas berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap Defrizal.
Dalam unggahan terpisah, Defrizal menyampaikan penyesalan mendalam melalui video dan surat pernyataan bermaterai.
“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada orang tua dan adik penyandang disabilitas yang telah saya hina. Saya sangat menyesali perbuatan saya yang tidak manusiawi dan siap menerima segala konsekuensi hukum maupun sosial atas tindakan bodoh saya,” ucap Defrizal.
Kasus ini tidak berhenti pada sanksi individu. Warganet juga menyoroti peran lingkungan kerja yang membiarkan perilaku tersebut terjadi. Banyak komentar yang menekankan bahwa mereka yang ikut tertawa tanpa melapor atau menegur juga turut bersalah dalam rantai perundungan tersebut.
“Mereka yang ikut ketawa juga termasuk pembully. Ini bukan sekadar ‘candaan’, tapi penghinaan terhadap kemanusiaan. Semoga kejadian ini menjadi alarm bagi semua pelaku usaha untuk melatih stafnya bukan hanya soal resep makanan, tapi juga resep kemanusiaan,” tulis akun @vi8******a dalam kolom komentar.
Resto Ayam Mashendy berjanji akan menjadikan peristiwa ini sebagai titik balik untuk evaluasi internal, termasuk pelatihan sensitivitas terhadap pelanggan berkebutuhan khusus. Insiden di Jagakarsa ini menjadi pengingat keras bahwa inklusi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang harus dijaga di setiap interaksi sosial, termasuk di meja makan.