Viral di Threads, Warga Malang Keluhkan Sound Horeg hingga Dini Hari: Ganggu Istirahat, Kaca Rumah Bergetar
Malang, Ballebale.com – Perbincangan mengenai penggunaan sound horeg kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah warga Malang ramai-ramai mengeluhkan kebisingan yang berlangsung hingga dini hari. Keluhan tersebut viral di platform media sosial Threads dan sempat menjadi topik hangat dalam pembahasan bertanda “Malang” dan “Kota Malang”.
Sejumlah warga mengaku suara musik dengan volume tinggi berlangsung hingga lewat tengah malam, sehingga mengganggu waktu istirahat masyarakat, terutama bayi, anak-anak, lansia, hingga warga yang sedang sakit.
Salah satu unggahan yang banyak mendapat perhatian berasal dari akun Threads @niki_nikkita. Ia mengaku suara musik masih terdengar keras hingga sekitar pukul 01.00 WIB.
“Sudah lewat tengah malam, tetapi suara musiknya belum juga berhenti. Kami yang lokasinya cukup jauh saja masih terganggu, apalagi warga yang berada di sekitar lokasi. Anak saya terus terbangun dan kami sama sekali tidak bisa beristirahat dengan tenang,” tulisnya dalam unggahan yang disertai tangkapan layar waktu pukul 01.19 WIB pada Minggu (5/7/2026).
Dalam kolom komentar, sejumlah warganet menduga sumber kebisingan berasal dari kegiatan selamatan yang digelar di salah satu desa.
Keluhan serupa juga disampaikan akun @cynthiaongliani. Menurutnya, penggunaan sound system seharusnya tetap mempertimbangkan kenyamanan masyarakat sekitar.
“Silakan mengadakan acara, tetapi jangan sampai mengorbankan hak orang lain untuk beristirahat. Banyak keluarga yang memiliki bayi dan balita, sementara anak-anak mereka sulit tidur karena suara musik yang terlalu keras,” tulisnya.
Bahkan, akun @naurabilclinton mengaku suara dentuman musik masih terdengar hingga pukul 03.15 WIB. Ia juga menyoroti siaran langsung di media sosial yang dinilainya seolah menganggap kebisingan tersebut sebagai hal yang membanggakan.
Tak hanya kebisingan, beberapa warga juga mengeluhkan getaran yang ditimbulkan dari suara bass berintensitas tinggi. Akun @ciffon__ mengaku kaca jendela rumahnya ikut bergetar meski lokasi tempat tinggalnya cukup jauh dari titik acara.
“Rumah saya berada cukup jauh, tetapi suara dan getarannya masih terasa sampai sini. Kalau di sini saja seperti itu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana warga yang tinggal lebih dekat dengan lokasi,” tulisnya.
Keluhan serupa disampaikan akun @momicowdy yang mempertanyakan kemungkinan langkah hukum terhadap penyelenggara kegiatan karena suara keras masih terdengar hingga lewat pukul 00.40 WIB.
Di tengah ramainya keluhan tersebut, sejumlah warga mengaku telah melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian. Salah satu tangkapan layar yang diunggah akun @anang17as memperlihatkan respons dari kepolisian yang menyatakan telah berkoordinasi dengan personel di lapangan.
Dalam balasan tersebut, polisi menyampaikan bahwa petugas akan melakukan pendekatan secara persuasif kepada penyelenggara untuk meminta volume pengeras suara dikurangi atau kegiatan dihentikan apabila dinilai mengganggu ketertiban masyarakat.
Sebagai informasi, penggunaan sound system di Jawa Timur telah diatur melalui Surat Edaran Bersama Gubernur Jawa Timur, Kapolda Jawa Timur, dan Pangdam V/Brawijaya Nomor 300.1/6902/209.5/2025, Nomor SE/1/VIII/2025, dan Nomor SE/10/VIII/2025.
Dalam aturan tersebut, penggunaan sound system statis seperti konser musik, pertunjukan seni, maupun acara di ruang terbuka dan tertutup dibatasi maksimal 120 dBA. Sementara penggunaan nonstatis, seperti karnaval atau iring-iringan yang berpindah lokasi, dibatasi maksimal 85 dBA guna menjaga kenyamanan dan ketertiban masyarakat.