Skip to content
Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi

Find Us

Address
123 Main Street
New York, NY 10001

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi
Close

Search

Home/Lifestyle/Ketika Tionghoa dan Jawa Menyatu dalam Sedekah Bumi di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto

Ketika Tionghoa dan Jawa Menyatu dalam Sedekah Bumi di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto

By admin
September 8, 2026

 

PURWOKERTO, Ballebale.com — Harmoni budaya kembali menemukan panggungnya di , Minggu (6/9/2026). Di tengah rangkaian ritual Sembahyang King Hoo Ping atau yang populer dikenal masyarakat sebagai Sembahyang Rebutan, sebuah pesan tentang kepedulian, kebersamaan, dan keberagaman justru tampil begitu kuat.

 

Bakti sosial yang digelar secara rutin setiap tahun tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan sekaligus momentum untuk berbagi kepada masyarakat.

 

Dalam tradisi masyarakat Jawa, suasana tersebut memiliki nuansa yang dekat dengan konsep Sedekah Bumi, sebuah tradisi yang mengandung semangat syukur, berbagi, dan menjaga hubungan harmonis dengan sesama.

 

Yang menarik, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang peribadatan dan kepedulian sosial. Seni budaya juga hadir sebagai jembatan yang mempertemukan dua akar tradisi: Tionghoa dan Jawa.

 

Lengger Banyumasan di Tengah Tradisi Tionghoa

 

Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

 

Kehadiran sanggar seni ini membawa kesenian tradisional Banyumasan melalui pertunjukan Tari Calung Lengger Banyumasan.

 

Bagi Randhi Haryaningtyastomo dari Sanggar Seni Panginyongan, tampilnya kesenian Banyumasan dalam rangkaian kegiatan di Klenteng Hok Tek Bio bukan sekadar pertunjukan seni.

 

Menurutnya, momentum tersebut menunjukkan bagaimana dua budaya yang berbeda dapat bertemu, berdialog, dan menyatu melalui bahasa yang universal: seni dan kebersamaan.

 

“Ini merupakan perpaduan dua budaya, Tionghoa dan Jawa, yang menyatu dalam sebuah acara Sedekah Bumi. Tari Calung Lengger Banyumasan turut mengisi acara sembahyang Sedekah Bumi di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto,” ujar Randhi.

 

Pertunjukan Lengger Banyumasan pun menjadi warna tersendiri. Irama calung, gerak tari, dan karakter kesenian Banyumas hadir berdampingan dengan tradisi Tionghoa yang telah lama hidup di tengah masyarakat Purwokerto.

 

Perjumpaan itu seolah mengingatkan bahwa kebudayaan tidak selalu harus dipisahkan berdasarkan identitas. Sebaliknya, budaya dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan menghargai.

 

Bakti Sosial: Tradisi yang Menjadi Kepedulian

 

Bakti sosial yang menjadi bagian dari agenda tahunan Klenteng Hok Tek Bio juga memperlihatkan bahwa tradisi tidak berhenti pada ritual.

 

Ada kepedulian yang diterjemahkan dalam tindakan nyata.

 

Semangat berbagi menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Masyarakat diajak melihat bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang dapat dirasakan melalui interaksi, gotong royong, seni, dan kepedulian sosial.

 

Pengurus Klenteng Hok Tek Bio, Maryati, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial tersebut merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat.

 

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian ritual Sembahyang King Hoo Ping yang memiliki akar tradisi dan nilai penghormatan kepada leluhur.

 

Purwokerto dan Wajah Indonesia yang Sesungguhnya

 

Pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran kecil tentang wajah Indonesia yang sesungguhnya.

 

Di satu tempat, tradisi Tionghoa dijalankan dengan penuh penghormatan. Di tempat yang sama, kesenian Banyumasan hadir dengan suara calung dan gerak Lengger.

Tidak ada yang harus kehilangan identitas.

Justru dari perbedaan itulah lahir sebuah ruang kebersamaan.

 

Seni menjadi bahasa yang mampu menjembatani perbedaan. Tradisi menjadi pintu untuk saling memahami. Sementara bakti sosial menjadi bukti bahwa keberagaman akan terasa indah ketika diwujudkan dalam kepedulian.

 

Dari Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto, pesan sederhana itu kembali terdengar berbeda bukan alasan untuk berjauhan. Kebudayaan justru dapat menjadi jalan untuk saling mendekat.

 

Dan ketika Lengger Banyumasan menari di tengah tradisi Tionghoa, yang lahir bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan sebuah potret kecil tentang Indonesia beragam budayanya, satu semangat kemanusiaannya.

 

Kalau Anda ingin, saya juga bisa membuatkan versi berita yang lebih bombastis dengan judul ala media nasional, lengkap dengan kutipan Maryati yang lebih kuat dan human interest.

Tags:

Harmoni budayaritual Sembahyang King Hoo Pingtradisi Tionghoa
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Jakarta On The Spot: Polsek Bekasi Selatan Gelar Operasi Cipta Kondisi Antisipasi Kejahatan Jalanan

Next

Jaga Jakarta On The Spot, Polsek Bekasi Barat Gelar Razia dan Patroli Antisipasi Kejahatan Jalanan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About This Site

Balle bale  “MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA”

Recent Posts

  • Polri dan KPAI Perkuat Kerja Sama Lindungi Anak dari TPPO dan Kekerasan
  • Para Mantan Dankor Brimob Temui Kapolri, Perkuat Dukungan dan Soliditas Polri
  • Mawar de Jongh dan Ardit Erwandha Bikin Salting, Persahabatan Karina-Raka Berujung Cinta?

Archives

  • November 2026 (106)
  • October 2026 (435)
  • September 2026 (594)
  • August 2026 (269)
  • July 2026 (362)
  • June 2026 (53)

Find Us

Address
Jakarta Selatan
DKI Jakarta , Indonesia

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

Copyright 2026 — Balle Bale. All rights reserved. MTM Network