Iwan Fals dan Felicia: Saat Musik Meruntuhkan Sekat Generasi di Panggung SCTV
JAKARTA, Ballebale.com – Di atas panggung perayaan ulang tahun ke-36 SCTV, tidak akan ada sekat yang memisahkan masa lalu dan masa kini. Iwan Fals, si penyanyi rakyat yang suaranya telah menjadi saksi bisu pergolakan sosial selama puluhan tahun, akan berbagi mikrofon dengan Felicia, wajah segar pemenang The Icon Indonesia asal Tangerang. Ini bukan sekadar kolaborasi dangdut-pop atau gimmick pencitraan stasiun televisi; ini adalah dialog musikal yang mencoba mendamaikan jarak waktu.
Bagi Iwan Fals, label “legenda” dan “pendatang baru” adalah konstruksi sosial yang sering kali justru menghambat kreativitas. Ia menolak pandangan biner yang mempertentangkan senioritas dengan energi muda. Bagi penyanyi yang lagu-lagunya pernah dilarang di era Orde Baru ini, musik adalah bahasa universal yang tidak mengenal usia.
“Kalau kolaborasi, yang dicari bukan cuma siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda. Yang penting bagaimana dua karakter itu bisa bertemu di musik. Kalau sudah ketemu, generasi bukan lagi jarak,” ujar Iwan Fals, dengan nada datar namun tegas, menyoroti esensi dari pertemuan mereka.
Pernyataan Iwan ini terasa tajam di tengah industri hiburan yang kerap terjebak pada fetisisme nostalgia atau sebaliknya, terobsesi pada tren sesaat tanpa akar. Kolaborasi dengan Felicia adalah bukti bahwa Iwan masih percaya pada regenerasi, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai napas baru bagi keberlangsungan musik Indonesia.
Iwan menyadari bahwa musisi senior memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi gerbang tertutup. Ia melihat kehadiran talenta seperti Felicia sebagai indikator sehatnya ekosistem musik tanah air.
“Yang muda harus punya ruang. Kita yang sudah lebih dulu ada jangan malah menutup pintu. Kalau ada anak muda yang punya kemampuan, ya kita kasih kesempatan. Dari situ musik bisa terus hidup,” katanya.
Kalimat tersebut bukan sekadar basa-basi keramahan seorang senior. Ini adalah kritik halus sekaligus ajakan bagi para pemegang kuasa di industri musik untuk berhenti memonopoli panggung dan mulai membuka ruang bagi suara-suara baru yang mungkin belum terdengar, tetapi memiliki potensi besar.
Persiapan untuk penampilan di malam puncak HUT SCTV 36 XtraOrdinary ini pun dilakukan dengan disiplin tinggi. Iwan mengakui bahwa ia tidak ingin penampilan ini hanya ramai secara visual, tetapi juga kaya secara substansi musikal. Waktu latihan yang diperpanjang digunakan untuk menyatukan harmoni, memastikan bahwa perbedaan gaya vokal dan pendekatan musikal antara dirinya dan Felicia dapat melebur menjadi satu kesatuan yang utuh.
“Kalau mau tampil luar biasa, ya latihannya juga harus lebih. Kami punya waktu lebih panjang untuk mempersiapkan semuanya. Harapannya bukan hanya ramai, tetapi secara musik juga lebih menyatu,” ujar Iwan.
Di tengah gempuran konten digital yang serba cepat dan instan, komitmen untuk berlatih dan mendalami materi kolaborasi adalah sebuah sikap perlawanan terhadap budaya permukaan. Iwan dan Felicia tidak datang untuk sekadar mengisi slot waktu siaran, tetapi untuk menunjukkan bahwa musik, ketika dikerjakan dengan serius dan saling menghormati, mampu menjembatani apa yang oleh masyarakat sering dianggap sebagai jurang pemisah: generasi.
Malam itu, di Studio 6 EMTEK City, penonton tidak akan menyaksikan pertentangan antara “musik lama” dan “musik baru”. Mereka akan menyaksikan bukti bahwa musik memiliki caranya sendiri untuk mempersatukan, melampaui batas usia, dan menciptakan makna baru bersama.