Dua Kali Batal Bertemu, PAMDI Bekasi Tetap Membuka Pintu Silaturahmi dengan PSI
BEKASI,Ballebale.com— Niat untuk membuka ruang silaturahmi dan membangun komunikasi antara organisasi musik dangdut dan partai politik di Kabupaten Bekasi kembali menemui jalan buntu.
Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) Kabupaten Bekasi menyayangkan batalnya agenda silaturahmi dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Bekasi. Pertemuan yang sebelumnya telah dijadwalkan itu disebut batal untuk kali kedua.
Ketua PAMDI Kabupaten Bekasi, Agus Hermanto atau yang akrab disapa Agus Mein, mengatakan, sejak awal pihaknya tidak membawa agenda khusus selain keinginan mempererat komunikasi dan membangun hubungan baik dengan jajaran PSI Kabupaten Bekasi.
Menurut Agus, jadwal pertemuan bahkan telah diatur langsung oleh Ketua DPD PSI Kabupaten Bekasi, Ridho. Namun, ketika waktu pertemuan tiba, agenda tersebut kembali dibatalkan.
“Kami sangat menyayangkan sekali. Padahal kami sudah kondisikan jajaran pengurus. Bahkan beberapa pengurus rela menolak job sebagai musisi dan artis hanya demi hadir bersilaturahmi bersama jajaran DPD PSI Kabupaten Bekasi. Namun, pada waktu yang sudah ditentukan tiba-tiba dibatalkan,” ujar Agus di rumahnya di Tambun, Sabtu(8/9)
Bagi PAMDI, pertemuan tersebut sebenarnya memiliki arti lebih luas. Organisasi yang menaungi pencipta lagu, musisi, artis, serta kelompok-kelompok dangdut itu ingin membuka kemungkinan kerja sama sekaligus menyampaikan aspirasi para pekerja musik dangdut di Kabupaten Bekasi.
Agus menilai, komunitas musik dangdut merupakan bagian dari masyarakat yang selama ini turut menghidupkan ruang-ruang hiburan dan kebudayaan di daerah. Karena itu, komunikasi dengan para pengambil kebijakan dan kekuatan politik dianggap penting untuk membicarakan masa depan para pekerja seni.
Ia juga menyebut sosok muda Ridho sebagai salah satu alasan PAMDI tertarik membangun komunikasi. Menurut Agus, usia muda bukan penghalang untuk menghadirkan gagasan perubahan bagi Kabupaten Bekasi.
“Khususnya bagi para pekerja musik dangdut di Kabupaten Bekasi yang selama ini terabaikan, bahkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi sekalipun,” katanya.
Di tengah kekecewaan itu, Agus sempat melontarkan pertanyaan bernada gurauan ketika bertemu awak media.
“Apa memang susah ya bertamu ke kantor partai politik di Kabupaten Bekasi?” ujarnya.
Meski demikian, Agus memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut. Ia justru menyampaikan kemungkinan bahwa PAMDI belum dianggap memiliki posisi strategis bagi PSI.
Padahal, menurut dia, PAMDI memiliki anggota yang tersebar di berbagai daerah. Di Kabupaten Bekasi sendiri, anggotanya berasal dari berbagai latar belakang profesi musik, mulai dari pencipta lagu, musisi, artis, hingga puluhan grup dangdut.
“Mohon maaf, Mas Ketua. Mungkin organisasi yang saya pimpin dianggap belum memiliki nilai strategis, walau memiliki anggota ribuan yang terdiri dari pencipta lagu, musisi, artis dan puluhan group dangdut yang memiliki anggota lumayan banyak di Kabupaten Bekasi,” kata Agus.
Ia menambahkan, PAMDI juga memiliki jaringan organisasi di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia, termasuk di Jawa Barat.
Namun, Agus menegaskan bahwa pembatalan pertemuan tidak serta-merta mengubah sikapnya terhadap PSI maupun Ridho. Ia mengatakan PAMDI tetap menghormati setiap keputusan dan berharap komunikasi dapat kembali terbuka pada kesempatan lain.
“Saat ini kami merasa mungkin saja PAMDI dinilai terlalu kecil untuk digandeng berjuang bersama PSI. Namun demikian, kami tetap menerima kejadian ini dan tetap mendukung gerak juang Mas Ketua,” ujarnya.
Pada akhirnya, kekecewaan itu justru ditutup dengan doa.
Agus berharap Ridho dan jajaran DPD PSI Kabupaten Bekasi tetap memiliki semangat dalam menjalankan perjuangan politiknya menuju Pemilu 2029.
“Terima kasih, Mas Ketua. Tetap semangat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kelancaran, menambah spirit juang dan kemudahan di setiap langkah perjuangan Mas Ketua sehingga PSI juara dan dapat meraih hasil terbaik pada Pemilu 2029, khususnya di Kabupaten Bekasi,” kata Agus.
Ia pun memilih melihat pembatalan pertemuan tersebut sebagai bagian dari perjalanan yang belum tentu harus berakhir sebagai persoalan.
“Kejadian hari ini tidak usah dipersoalkan. Karena saya yakin, setiap kejadian yang luar biasa seperti ini ada skenario Tuhan di dalamnya untuk Mas Ketua Ridho dan DPD PSI Kabupaten Bekasi,” tutup Agus.