Jejak Gombloh, Balada Kehidupan yang Tak Pernah Usang
JAKARTA,BalleBale.com -|Di tengah deretan nama besar musik Indonesia, Gombloh selalu menempati ruang yang berbeda. Ia bukan sekadar penyanyi atau pencipta lagu, melainkan seorang pencerita yang menjadikan musik sebagai medium untuk merekam denyut kehidupan, kegelisahan sosial, hingga kecintaannya kepada Indonesia.
Lahir dengan nama Soedjarwoto pada 12 Juli 1948 di Jombang, Jawa Timur, Gombloh tumbuh dalam keluarga sederhana yang sempat mengungsi akibat Agresi Militer Belanda II. Julukan “Gombloh” yang semula bermakna “berpura-pura bodoh” justru menjadi identitas yang kelak mengantarkannya sebagai salah satu musisi paling berpengaruh di Tanah Air.
Perjalanan hidupnya jauh dari kata lazim. Ia pernah menempuh pendidikan di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Namun, ruang kelas tak mampu membendung jiwa bebasnya. Ia memilih meninggalkan bangku kuliah dan mengikuti panggilan hati untuk bermusik, sebuah keputusan yang kemudian melahirkan karya-karya yang terus hidup lintas generasi.
Karier bermusiknya dimulai sejak remaja melalui sejumlah kelompok musik, hingga akhirnya bergabung dengan Lemon Tree’s Anno ’69, band beraliran art rock yang dikenal progresif pada masanya. Dari sanalah Gombloh mulai menunjukkan karakter musikalnya yang khas: puitis, reflektif, sekaligus berani menyuarakan realitas sosial.
Lagu-lagunya tak hanya berbicara tentang cinta. Gombloh menghadirkan kisah rakyat kecil melalui “Doa Seorang Pelacur”, “Nyanyi Anak Seorang Pencuri”, hingga “Selamat Pagi Kotaku”. Ia juga menyuarakan kepedulian terhadap alam lewat “Berita Cuaca” yang lebih dikenal sebagai “Lestari Alamku”.
Namun, tema yang paling melekat dalam karya-karyanya adalah nasionalisme. Lewat lagu-lagu seperti “Indonesia Kami”, “Pesan Buat Negeriku”, “BK”, dan terutama “Kebyar-Kebyar”, Gombloh menghadirkan rasa cinta tanah air tanpa kesan menggurui. “Kebyar-Kebyar” bahkan menjelma menjadi lagu yang terus bergema dalam berbagai momentum kebangsaan hingga kini.
Di balik popularitasnya, Gombloh dikenal sebagai pribadi sederhana. Kesuksesan tidak membuatnya hidup bergelimang kemewahan. Ia lebih senang menghabiskan waktu dan rezekinya bersama para sahabat. Kesetiakawanan menjadi bagian dari hidupnya, sama besarnya dengan kecintaannya terhadap musik.
Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah berjuang melawan penyakit paru-paru. Kepergiannya memang mengakhiri perjalanan hidupnya, tetapi tidak menghentikan pengaruh karya-karyanya. Patung penghormatan di Surabaya, penghargaan anumerta dari PAPPRI, hingga penelitian akademik dari Universitas Cornell menjadi bukti bahwa warisan musikal Gombloh melampaui zamannya.
Puluhan tahun setelah kepergiannya, lagu-lagu Gombloh masih terdengar relevan. Lirik-liriknya tetap mampu menyentuh, mengajak berpikir, sekaligus mengingatkan bahwa musik terbaik adalah musik yang lahir dari kejujuran. Itulah sebabnya Gombloh tak hanya dikenang sebagai musisi, tetapi juga sebagai penyair yang menulis Indonesia melalui nada dan kata.(**)