Sambas Mangundikarta dan Seni Menyapa Jutaan Pemirsa, Warisan yang Tak Lekang oleh Zaman
JAKARTA,Ballebale com – Ada masa ketika suara dan wajah Sambas Mangundikarta menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah keterbatasan teknologi, ketika televisi masih hitam putih dan hanya dimiliki segelintir keluarga, Sambas hadir melalui layar TVRI, menyapa pemirsa dengan gaya penyampaian yang khas, santai, dan informatif.
Kenangan tentang sosok penyiar legendaris itu kembali mengemuka dalam perbincangan bersama Yasir Den Has, salah satu narasumber dalam acara 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta, yang digelar di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, RRI Jakarta, Senin (19/10/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Yasir mengungkapkan satu prinsip penting yang dipelajarinya ketika tampil di hadapan publik maupun di depan kamera: seorang penyiar harus merasa sedang berbicara kepada satu orang, bukan kepada jutaan penonton.
“Kalau saya jujur, justru merasa yang menonton itu cuma satu,” ujar Yasir, menjelaskan cara dirinya menjaga konsentrasi saat membawakan acara.
Prinsip itu, menurut dia, berawal dari pengalaman tampil di depan publik. Seorang pembicara, pembawa acara, maupun penyiar televisi tidak perlu terbebani oleh banyaknya orang yang menyaksikan. Cukup bayangkan sedang berbicara kepada satu orang agar komunikasi terasa lebih dekat dan alami.
Cara pandang tersebut pula yang membuat Yasir merasa biasa saja ketika tampil di layar kaca, meskipun program yang dibawakannya ditonton masyarakat dalam jumlah besar.
Namun, perkembangan teknologi digital menghadirkan pengalaman baru yang tak pernah dibayangkannya.
Menemukan Kembali Penonton di Dunia Maya
Yasir mengaku baru aktif menjelajahi dunia media sosial sekitar dua tahun terakhir, setelah mendapat dorongan dari anak dan cucunya. Melalui TikTok, Facebook, Instagram, hingga platform digital lainnya, ia mulai menyadari bahwa orang-orang yang pernah menyaksikannya di televisi ternyata masih mengingat dirinya.
Pengalaman pertamanya di TikTok menjadi kejutan tersendiri. Dalam waktu sekitar satu jam setelah kemunculannya, unggahannya disebut mampu meraih hingga 10.000 penayangan.
“Saya baru tahu bahwa sebetulnya orang yang menonton saya dari dulu itu banyak,” tuturnya.
Respons tersebut membuka kembali kenangan tentang masa ketika televisi menjadi medium audio-visual utama yang menjangkau masyarakat Indonesia. Pada era 1970-an hingga 1990-an, ketika TVRI masih menjadi pusat perhatian pemirsa, televisi bahkan menjadi tontonan bersama di sejumlah tempat, termasuk kantor desa.
Yasir mengenang cerita masyarakat yang dahulu menonton siaran televisi beramai-ramai karena belum semua rumah memiliki pesawat televisi sendiri.
Kini, situasinya berbalik. Melalui media sosial, Yasir menemukan penonton dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, seperti Dubai, Thailand, Taiwan, Australia, dan Turki.
Bagi Yasir, kenyataan itu menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuktikan bahwa hubungan antara penyiar dan penonton dapat bertahan jauh melampaui masa tayang sebuah program.
Ia juga menyebut rencana keberangkatannya ke Turki pada November 2026 sebagai bagian dari keterlibatannya dalam kegiatan seni dan budaya. Sebagai Dewan Pembina Gentra Lestari Budaya, ia dijadwalkan mendampingi rombongan yang mendapat undangan mengikuti festival internasional dengan peserta dari sekitar 30 negara.
Sambas, Penyiar yang Dekat dengan Masyarakat
Dalam mengenang Sambas Mangundikarta, Yasir turut menyinggung program Dari Desa ke Desa, yang memperlihatkan sisi lain penyiaran: bukan sekadar menyampaikan informasi dari studio, melainkan hadir langsung di tengah kehidupan masyarakat.
Program tersebut membawa pemirsa menyaksikan kondisi pedesaan, kehidupan warga, serta berbagai kegiatan yang mungkin luput dari perhatian masyarakat perkotaan.
Sambas dikenal memiliki kemampuan bertutur yang membuat informasi terasa dekat. Pengalaman panjangnya di radio dan televisi membentuk karakter penyiaran yang tidak hanya mengandalkan suara, tetapi juga ketelitian, penguasaan materi, dan kepekaan terhadap lingkungan yang diliput.
Lahir di Bandung pada 21 September 1926, Sambas memulai perjalanan panjangnya di dunia penyiaran melalui radio. Ia pernah terlibat dalam Radio Perjuangan Jawa Barat pada masa perjuangan kemerdekaan, sebelum melanjutkan karier di RRI pada 1952.
Kecintaannya terhadap musik kemudian berpadu dengan ketertarikannya pada jurnalistik olahraga. Sambas dikenal sebagai penyiar dan pewarta yang meliput berbagai pertandingan penting, mulai dari bulu tangkis hingga sepak bola. Pada 1962, ia bergabung dengan TVRI, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV di Jakarta.
Salah satu kekuatan Sambas adalah kemampuannya menyampaikan laporan secara santai, tetapi tetap kaya informasi. Karakter itu menjadikannya sosok yang dikenang oleh generasi pemirsa televisi Indonesia.
Perjalanan kariernya juga memperlihatkan bahwa profesi penyiar tidak berhenti pada kemampuan berbicara. Di balik suara yang terdengar akrab, terdapat proses panjang untuk memahami peristiwa, mengolah informasi, dan membangun kedekatan dengan audiens.
Sambas Mangundikarta wafat pada 30 Maret 1999. Namun, warisan profesional dan pengaruhnya tetap hidup dalam ingatan para sahabat, keluarga, serta masyarakat yang pernah menikmati karya-karyanya.
Pada 2022, Komisi Penyiaran Indonesia menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada Sambas sebagai penghargaan atas jasa dan dedikasinya di dunia penyiaran.
Merawat Warisan untuk Generasi Berikutnya
Acara 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan sosok tersebut kepada dunia penyiaran Indonesia.
Ketua panitia, Tika Bisono, menyampaikan bahwa kegiatan itu dirancang sebagai penghormatan kepada Sambas melalui diskusi tentang penyiaran dan persembahan musik yang berkaitan dengan perjalanan kariernya.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, M. Kabul Budiono, Yasir Den Has, serta Brigitta Isworo Laksmi. Isabella Fawzi bertugas sebagai pembawa acara, sementara Tika Bisono menjadi host. Persembahan musik turut melibatkan Fadhil Indra, Inge Sambas, dan Hetty Koes Endang, yang dijadwalkan membawakan lagu Manuk Dadali.
Lagu tersebut memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat dan menjadi salah satu karya yang lekat dengan nama Sambas Mangundikarta.
Wakil ketua panitia, Heri Putranto, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang, tetapi juga menginspirasi kalangan jurnalistik, penyiaran, dan komunikasi, terutama generasi muda yang tengah mempersiapkan diri memasuki dunia media.
Bagi Yasir, pengalaman kembali bertemu dengan penonton melalui media sosial menjadi pengingat bahwa karya penyiaran dapat melampaui zamannya. Teknologi boleh berubah, medium komunikasi dapat berganti, tetapi kedekatan antara penyiar dan masyarakat tetap menjadi inti profesi tersebut.
Sambas telah meninggalkan jejak melalui radio dan televisi. Kini, ketika dunia penyiaran memasuki era digital, kisah dan nilai yang diwariskannya menemukan ruang baru untuk dikenang dan diteruskan kepada generasi berikutnya.[**]