Skip to content
Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi

Find Us

Address
123 Main Street
New York, NY 10001

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi
Close

Search

Home/Entertainment/Di Balik Luka Ningsih, Anya Zen Hadirkan Dilema Moral dalam Lobang Buaya
Entertainment

Di Balik Luka Ningsih, Anya Zen Hadirkan Dilema Moral dalam Lobang Buaya

By Darmo Gandul
October 9, 2026

JAKARTA,Ballebale.com— Di tengah misteri pembunuhan berantai dalam film horor-misteri Lobang Buaya, sosok Ningsih justru menjadi salah satu karakter yang paling mengundang perhatian. Diperankan Anya Zen, perempuan penari ronggeng yang hidup dalam tekanan dan ketidakadilan itu menghadirkan dilema bagi penonton: haruskah ia dikasihani, atau justru dicurigai?

Film terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo tersebut membawa penonton ke tahun 1964, setahun sebelum tragedi kelam 1965 di Indonesia. Ceritanya berpusat pada penyelidikan Letnan Soegeng, yang diperankan Baskara Mahendra, atas kematian sejumlah tokoh desa. Teror demi teror muncul setiap tanggal 30, disertai penampakan sosok misterius yang dikenal sebagai “hantu bolong”.

Di tengah rangkaian kejadian berdarah dan konflik sosial yang membayangi cerita, kehadiran Ningsih menjadi bagian penting dalam membangun ketegangan. Karakter yang tampak rapuh dan teraniaya itu mengundang simpati, tetapi sekaligus menyimpan pertanyaan yang belum tentu mudah dijawab.

Menghidupkan luka perempuan tertindas

Anya Zen mengaku bangga mendapat kesempatan memerankan Ningsih. Latar belakangnya dalam dunia tari turut menjadi bekal untuk menghidupkan karakter penari ronggeng yang harus menghadapi kerasnya lingkungan sosial.

“Aku bangga banget bisa memerankan Ningsih, seorang wanita yang menjadi representasi bagi kaum tertindas pada masa itu. Ini adalah peran paling intens dan paling menantang bagiku sampai saat ini,” tutur Anya.

Melalui Ningsih, film ini menghadirkan gambaran perempuan yang terjebak dalam situasi penuh ketidakadilan. Namun, dalam kisah yang dibangun dengan misteri dan kejutan berlapis, penderitaan seorang tokoh tidak serta-merta menjelaskan seluruh kebenaran di balik tindakannya.

Di sinilah karakter Ningsih menjadi menarik. Simpati penonton berpotensi berbenturan dengan kecurigaan, terutama ketika teka-teki pembunuhan terus berkembang dan setiap karakter memiliki sisi yang belum sepenuhnya terungkap.

Adegan berat dan proses menjaga kesehatan mental

Beradu akting dengan Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, hingga Mathias Muchus, Anya menghadapi tantangan yang bukan sekadar berkaitan dengan tuntutan teknis permainan peran. Ada adegan emosional yang mengharuskannya mempersiapkan diri secara khusus.

Anya mengungkapkan bahwa ia meminta izin kepada Hanung untuk menceritakan detail salah satu adegan berat kepada psikolognya. Langkah itu dilakukan demi menjaga kesehatan mental sebelum menjalani proses pengambilan gambar.

“Ada satu adegan yang sangat-sangat berat di film ini, dan sebelum aku ambil adegan tersebut, aku izin ke Mas Hanung untuk menceritakan adegannya ke psikolog aku, untuk menjaga kesehatan mentalku juga,” ungkap Anya.

Menurut dia, Hanung memberikan dukungan terhadap langkah tersebut. Ia juga merasa diperhatikan oleh seluruh kru selama proses pengambilan gambar, terutama dalam menjaga kenyamanan ketika harus menjalani adegan yang menguras emosi.

Pengalaman itu memperlihatkan sisi lain dari pekerjaan seorang aktor. Menghidupkan karakter yang terluka bukan hanya perkara menampilkan ekspresi sedih atau kemarahan di depan kamera, melainkan juga memerlukan persiapan emosional serta lingkungan kerja yang mendukung.

Ketika simpati berubah menjadi teka-teki

Penampilan Anya sebagai Ningsih menuai apresiasi dari penonton. Salah satu respons yang muncul menyoroti bagaimana karakter tersebut mampu menghadirkan rasa sakit sekaligus memunculkan konflik batin bagi penikmat film.

Karakter yang tragis itu membuat penonton mempertanyakan batas antara korban dan pelaku, antara luka masa lalu dan kemungkinan lahirnya tindakan yang menyakitkan orang lain.

Pertanyaan tersebut menjadi daya tarik tersendiri dalam Lobang Buaya, Apakah Ningsih benar-benar perempuan yang menjadi korban keadaan, atau ada sisi lain dari dirinya yang belum terungkap? Jawabannya menjadi bagian dari misteri yang perlu diikuti sepanjang film.

Alih-alih sekadar menjadi pemanis cerita, Ningsih hadir sebagai karakter yang mengundang penonton untuk membaca ulang setiap petunjuk dan mempertimbangkan kembali penilaian mereka.

Film Lobang Buaya saat ini masih tayang di bioskop Indonesia. Informasi mengenai tiket dan konten eksklusif dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm.(**)

Tags:

AnyaZenG30SPKIHanungBramantyoLobangBuaya
Author

Darmo Gandul

Follow Me
Other Articles
Previous

Polisi Usut Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Bekasi, Korban Lebih dari 10 Orang

Next

Subdit Jatanras Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Pembunuhan di Pinang Ranti, Dua Tersangka Ditangkap

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About This Site

Balle bale  “MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA”

Recent Posts

  • Yura Yunita dan Idgitaf Rilis Lagu Kolaborasi Berjudul “Mendung”
  • Wayang Jurnalis Bangkit! 12 Wartawan Unjuk Kebolehan dalam Lakon Petruk Mantu
  • Nugie Minder Jadi Bapak Satine Zaneta di Film Siti Si Vampir
  • Respons Cepat Tangani Banjir Padang, Polri Kerahkan Personel dan Dirikan Posko Kesehatan
  • Kapolda Metro Jaya Dengarkan Aspirasi Wartawan, Dorong Peningkatan Pelayanan Kepolisian

Archives

  • October 2026 (116)
  • September 2026 (594)
  • August 2026 (269)
  • July 2026 (362)
  • June 2026 (53)

Find Us

Address
Jakarta Selatan
DKI Jakarta , Indonesia

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

Copyright 2026 — Balle Bale. All rights reserved. MTM Network