Tak Bisa Bohong, Tak Punya Filter: Kekacauan Calon Gubernur di Film Bapak Paling Jujur
JAKARTA,Ballebale.com — Kejujuran semestinya menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan. Namun, apa jadinya jika seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk berbohong, sekaligus tak lagi memiliki “filter” untuk menyaring apa yang ada di kepalanya?
Premis itulah yang diangkat film drama komedi Bapak Paling Jujur, produksi Cahaya Pictures bersama Studio Antelope.
Film yang disutradarai Fajar Nugros dengan skenario Rino Sarjono tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
Film berdurasi 103 menit ini berkisah tentang Jonas Prakoso, diperankan Andovi da Lopez, seorang calon gubernur yang terbiasa membangun citra dan berhati-hati dalam memilih setiap perkataan.
Namun, kehidupan Jonas berubah setelah sebuah kutukan dari neneknya membuat ia kehilangan kemampuan untuk berbohong.
Persoalannya, Jonas bukan sekadar tak bisa berbohong. Ia juga kehilangan filter.
Apa pun yang terlintas di kepalanya bisa langsung keluar begitu saja. Hal-hal yang semestinya dipikirkan terlebih dahulu, disimpan, atau disampaikan dengan cara yang lebih tepat justru terlontar tanpa kendali.
Kejujuran yang semula dianggap sebagai kekuatan perlahan berubah menjadi sumber kekacauan.
Kampanye, pekerjaan, hubungan keluarga hingga kehidupan pribadi Jonas ikut terdampak.
“Kalau kita membangun kehidupan dan kesuksesan kita di atas fondasi kebohongan, apa yang terjadi ketika suatu hari kita tidak bisa berbohong lagi?” ujar Produser Bapak Paling Jujur dari Cahaya Pictures, Aoura Lovenson Chandra.
Menurut Aoura, film tersebut ingin mengangkat pentingnya kejujuran, khususnya bagi seorang pemimpin dan wakil rakyat, dengan pendekatan yang ringan dan menghibur.
“Kejujuran memang mahal dan tidak selalu mudah. Tetapi bagi seorang pemimpin dan wakil rakyat, kejujuran seharusnya bukan sebuah pilihan, melainkan komitmen dan tanggung jawab,” katanya.
Ketika Kejujuran Menjadi Bumerang
Sutradara Fajar Nugros mengatakan, persoalan kejujuran yang diangkat dalam film ini tidak hanya berkaitan dengan berkata benar.
Lebih dari itu, film ini juga berbicara tentang bagaimana seseorang membangun kepercayaan.
“Sebuah prestasi yang dibangun di atas kebohongan, seperti membangun istana pasir,” ujar Fajar.
Perjalanan Jonas kemudian menjadi gambaran tentang rapuhnya sesuatu yang dibangun tanpa fondasi kuat.
Ketika “filter” yang selama ini digunakan tiba-tiba hilang, Jonas dipaksa menghadapi konsekuensi dari setiap perkataan dan keputusan yang dibuatnya.

Bukan Sekadar Film Politik
Meski menggunakan dunia kampanye dan politik sebagai latar cerita, Bapak Paling Jujur tidak semata-mata berbicara tentang politik.
Cerita justru membawa persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tentang bagaimana seseorang memilih kata, menyimpan sesuatu, mempertimbangkan perasaan orang lain, serta menentukan kapan harus berkata jujur.
Premis serupa sebelumnya pernah diangkat dalam film Brasil O Candidato Honesto (2014) dan film Korea Selatan Honest Candidate (2020).
Versi Indonesia kemudian membawa premis tersebut ke dalam karakter, situasi, serta humor yang disesuaikan dengan konteks masyarakat Indonesia.
Melalui berbagai situasi absurd yang dialami Jonas, film ini mengajak penonton tertawa sekaligus mempertanyakan kembali makna kejujuran.
Sebab, berkata jujur ternyata tidak selalu sederhana.
Kejujuran yang disampaikan tanpa pertimbangan dan tanggung jawab pun dapat melahirkan konsekuensi yang tak terduga.
Selain Andovi da Lopez, film ini turut dibintangi Claresta Taufan, Benedictus Siregar, Soleh Solihun, Nayla D. Purnama, Lolox, Cing Abdel, TJ Ruth, Indy Barends, David Nurbianto, Akim Bagil, Mr. Keminggris, Rizki M. Firman, Jeremy Teti, Elwina (CeritaIbun), Mieke Shahir, dan sejumlah pemain lainnya.
Bapak Paling Jujur berdurasi 103 menit dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026. Tiket penayangan telah tersedia melalui berbagai aplikasi dan platform pemesanan tiket bioskop.(**)