Ustaz Ais, Jawara Betawi dari Cawang yang Merawat Tradisi Lewat Agama dan Budaya
JAKARTA, BalleBale.com — Bagi Ustaz Ais, menjadi orang Betawi bukan sekadar soal tempat lahir, pakaian tradisional, atau atribut yang dikenakan. Identitas Betawi, menurut dia, justru terletak pada nilai yang diwariskan: kedekatan dengan agama, penghormatan terhadap sesama, serta kesediaan menjaga kampung dan kebudayaan.
Ustaz Ais yang dikenal sebagai salah satu jawara Betawi di Cawang, Jakarta Timur, mengaku telah tinggal di kawasan tersebut sejak lahir. Bahkan, setelah berkeluarga, ia tetap memperoleh rumah di Cawang.
“Nasab dan nasib. Nasabnya orang Cawang, nasibnya juga dapat di sini,” ujar Ais saat ditemui di Jakarta.
Keterikatan dengan Cawang itu pula yang membuat perjalanan hidup Ais banyak berlangsung di lingkungan masyarakat setempat. Setelah sempat bekerja di sejumlah perusahaan, termasuk terakhir di Rumah Sakit Harapan Bunda, ia memutuskan berhenti menjadi karyawan pada 2008.
Sejak saat itu, aktivitasnya lebih banyak diarahkan pada pendidikan agama. Selama lebih dari 15 tahun, Ais mengajar, mengisi pengajian, dan berdakwah di tengah masyarakat.
Menurut dia, pengalaman berpindah dari dunia kerja ke dunia pendidikan agama membuatnya melihat bahwa keberhasilan tidak selalu dapat diukur dari materi.
Dalam mengajar, Ais memilih menempatkan keikhlasan sebagai pijakan utama. Ia tidak ingin aktivitas mendidik semata-mata dihitung berdasarkan honor atau imbalan.
“Kita mengajar ikhlas saja. Tidak perlu sibuk memikirkan gaji. Kita bekerja, soal rezeki biar Allah yang mengatur,” katanya.
Ais juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan dua hal yang kerap baru disadari nilainya setelah hilang, yakni kesehatan dan kesempatan.
Ia mengutip pesan Nabi Muhammad SAW mengenai dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.
“Kadang ketika sakit kita bilang nanti kalau sudah sehat akan berkunjung. Ketika sehat, lupa. Begitu juga saat punya waktu luang, kita menunda. Ketika sudah sibuk, kesempatan itu tidak ada lagi,” ujar dia.
Menjembatani Agama dan Budaya
Keterlibatan Ais dalam kegiatan ke-Betawian tidak terlepas dari kecintaannya terhadap seni dan budaya. Namun, ia menilai pelestarian budaya tidak seharusnya berjalan terpisah dari nilai agama.
Bagi Ais, kesenian dan kebudayaan semestinya menjadi sarana yang mendekatkan manusia kepada Tuhan, bukan sebaliknya.
“Jangan sampai kesenian dan kebudayaan yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru membuat kita menjauh dari Allah,” kata Ais.
Pandangan tersebut pula yang ia bawa ketika berbicara mengenai istilah “jawara”. Menurut dia, jawara tidak semestinya dimaknai sebagai sosok yang identik dengan kekuatan ataupun kesombongan.
Sebaliknya, seorang jawara justru harus mampu merendahkan diri dan menjaga masyarakat.
“Jawara itu bagi saya kembali kepada sikap merunduk. Jangan ada kesombongan,” ujarnya.
Dalam pandangannya, masyarakat Betawi memiliki hubungan yang kuat antara agama, adat, dan kebudayaan. Karena itu, ia ingin para ulama dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan aman dan nyaman di tengah masyarakat.
“Kita ingin para alim ulama bisa mengajar tanpa rasa khawatir. Kalau ada yang mengganggu, kita siap mengawal,” kata Ais.
Tidak Mengedepankan Bendera Organisasi
Ais juga menegaskan bahwa kegiatan yang dijalankannya tidak dimaksudkan untuk memperbesar satu kelompok atau organisasi tertentu.
Ia justru ingin berbagai unsur masyarakat Betawi yang memiliki latar belakang berbeda dapat bertemu dalam kegiatan yang sama.
Menurut dia, perbedaan kelompok semestinya tidak menjadi alasan untuk saling berhadapan.
Ia menggambarkan keberagaman tersebut seperti warna yang baru terlihat indah ketika menyatu.
“Kesombongan itu seperti pohon yang merasa hijau dengan daunnya atau sawah yang merasa hebat dengan kuning padinya. Ketika hujan turun, semua warna itu tertutup. Setelah hujan berhenti, muncul pelangi. Keindahannya justru lahir karena warna yang berbeda berkumpul,” ujar Ais.
Karena itu, ia menyebut sejumlah kelompok dan organisasi Betawi tidak harus membawa identitas masing-masing dalam setiap kegiatan.
Yang lebih penting, kata dia, adalah mempertemukan mereka melalui kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang memiliki nuansa Betawi.
“Yang kita kumpulkan bukan benderanya, tetapi orang-orangnya. Kita satukan dalam wadah majelis taklim dan kegiatan bernuansa ke-Betawian. Agamanya yang dikedepankan,” katanya.
Satukan Berbagai Aliran Silat
Gagasan tersebut antara lain diwujudkan melalui kegiatan seni bela diri tradisional Betawi.
Ais bersama sejumlah pihak pernah terlibat dalam pagelaran “Silat Kolosal” di Kota Tua. Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 300 peserta dari berbagai perguruan dan aliran silat.
Alih-alih menonjolkan satu perguruan, gerakan dalam pertunjukan tersebut dirancang dengan menggabungkan berbagai unsur silat.
Ada gerakan yang diambil dari cingkrik, beksi, gombel, kijitu, hingga perguruan lainnya. Seluruhnya kemudian dirangkai menjadi satu pertunjukan.
“Semua yang tergabung kita satukan dalam satu gerakan. Tidak mengatasnamakan sanggar ataupun perguruan. Yang disatukan adalah gerakannya dan niatnya,” ujar Ais.
Menurut dia, model seperti itu penting untuk menunjukkan bahwa kebudayaan Betawi tidak berdiri di atas satu kelompok saja.
Ke depan, Ais menyebut akan ada kegiatan yang lebih besar untuk memperingati lima abad Jakarta. Salah satunya berupa pagelaran yang melibatkan sekitar 500 pesilat.
Menjadi Pelaku Sejarah
Ais berharap generasi Betawi tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan perubahan Jakarta. Mereka harus menjadi bagian dari sejarah yang sedang berlangsung.
“Jangan melupakan sejarah. Jadilah pelaku sejarah dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah memberikan stigma kepada kelompok tertentu hanya karena melihat atribut atau bendera yang mereka gunakan.
Menurut Ais, keberadaan atribut kelompok Betawi tidak selalu berarti keinginan untuk menguasai wilayah tertentu.
Ia mencontohkan aktivitas menjaga lahan atau parkir yang selama ini kerap dikaitkan dengan kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Menurut dia, pekerjaan tersebut bisa saja muncul karena adanya kepercayaan dari pemilik lahan atau pihak yang membutuhkan jasa pengamanan.
“Jangan langsung berprasangka bahwa mereka ingin menguasai wilayah. Bisa jadi itu pekerjaan yang diberikan karena ada kepercayaan dari pemilik lahan,” ujarnya.
Bagi Ais, atribut budaya pada akhirnya hanyalah penanda. Identitas Betawi yang sesungguhnya tidak berhenti pada pakaian, peci, ataupun simbol-simbol lainnya.
Ia mengibaratkannya seperti nasi ulam. Sebuah makanan dikenali melalui ciri dan bumbunya. Namun, setelah orang mengenal rasanya, keberadaan atribut tidak lagi menjadi satu-satunya penentu identitas.
Begitu pula orang Betawi, kata dia, suatu saat tidak harus selalu menggunakan pakaian tradisional untuk menunjukkan jati dirinya.
“Orang akan tahu bahwa dia Betawi bukan semata-mata karena pangsi atau atributnya. Salah satu cirinya adalah mudah menganggap orang lain sebagai saudara dan mudah meminta maaf,” kata Ais.
Bagi Ais, sikap tersebut merupakan nilai yang justru perlu dipertahankan ketika Jakarta terus berubah.
Sebab, di tengah perubahan kota dan beragamnya masyarakat yang tinggal di dalamnya, identitas Betawi menurut dia tidak seharusnya dibangun melalui sekat, melainkan melalui keterbukaan, agama, kebudayaan, dan rasa persaudaraan.