125 Paspor dalam Sekejap! Kepala Imigrasi Jakbar Turun Langsung Makin Dipercaya
Jakarta, Ballebale.com – Minggu pagi di Jakarta biasanya menjadi waktunya warga berolahraga, menikmati udara pagi, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga.
Namun, di tengah riuh aktivitas car free day (CFD), ada pemandangan berbeda. Sejumlah warga justru memanfaatkan waktu tersebut untuk mengurus paspor. Kesempatan itu hadir melalui Pasporia CFD yang digelar Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026).
Hasilnya mencolok. Dalam waktu kurang dari dua jam, 125 kuota permohonan paspor berhasil dilayani. Capaian tersebut meningkat 25 persen dibanding pelaksanaan sebelumnya yang melayani 100 kuota dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Angka itu menjadi sinyal bahwa pelayanan paspor dengan konsep jemput bola semakin diminati masyarakat.
Datang untuk Olahraga, Pulang Bawa Urusan Beres
Konsep Pasporia CFD menawarkan sesuatu yang sederhana: masyarakat tidak harus menyisihkan satu hari khusus untuk datang ke kantor imigrasi. Warga yang sudah berada di kawasan CFD dapat sekaligus mengurus kebutuhan paspor.
Bagi pekerja dengan aktivitas padat, konsep ini tentu memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya Linda. Perempuan yang sehari-hari bekerja itu mengaku tidak mudah mencari waktu untuk datang ke kantor imigrasi pada hari kerja. CFD akhirnya menjadi momentum yang dimanfaatkan Linda untuk menyelesaikan urusan paspor sekaligus berolahraga.
“Saya sehari-hari bekerja, jadi memang agak sulit mencari waktu untuk datang ke kantor imigrasi. Kebetulan ada Pasporia di CFD, jadi saya sekalian olahraga sambil mengurus paspor. Ternyata prosesnya cepat dan tidak mengganggu aktivitas saya,” ungkap Linda.
Linda mengatakan pengalaman yang diterimanya bahkan melebihi ekspektasi. Mulai dari registrasi hingga tahapan akhir, proses pelayanan dinilainya berjalan cukup singkat.
“Saya kira akan lama, ternyata dari registrasi sampai selesai cukup cepat. Petugas juga membantu memberikan informasi. Jadi menurut saya layanan seperti ini sangat membantu masyarakat yang bekerja dan tidak punya banyak waktu pada hari biasa,” katanya
Rakha Tak Cuma Mengawasi
Di tengah aktivitas pelayanan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat Rakha Sukma Purnama hadir langsung. Rakha tidak sekadar berdiri mengawasi jalannya kegiatan. Ia turun berinteraksi dengan masyarakat, memberikan informasi, dan melihat langsung proses pelayanan yang dilakukan petugas.
Kehadiran tersebut membuat suasana pelayanan terasa lebih dekat. Pemohon dapat berkomunikasi langsung dengan pimpinan tanpa sekat yang kaku. Bagi Rakha, berada di lapangan juga menjadi cara untuk melihat pelayanan dari sudut pandang masyarakat.
“Saya ingin melihat langsung bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan. Bagi kami, pimpinan tidak cukup hanya menerima laporan. Kami perlu hadir, mendengar pemohon, melihat prosesnya, dan memastikan pelayanan benar-benar berjalan sesuai yang diharapkan masyarakat,” Rakha menuturkan.
Menurut Rakha, capaian 125 kuota tersebut patut diapresiasi. Namun, kecepatan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kualitasm
“Peningkatan kuota dari 100 menjadi 125 merupakan hal positif. Tetapi yang paling penting bukan hanya jumlahnya. Kami ingin pelayanan tetap cepat, tepat, informatif, ramah, dan sesuai prosedur,” kata Rakha.
Kecepatan Jadi Senjata Baru
Jika sebelumnya 100 kuota dapat dilayani sekitar 1 jam 30 menit, kini kapasitas pelayanan meningkat menjadi 125 kuota dalam waktu kurang dari dua jam.
Peningkatan 25 persen tersebut menunjukkan adanya upaya untuk membuat proses pelayanan semakin efektif. Namun, capaian itu bukan berarti sekadar mengejar rekor. Pasporia dirancang agar pelayanan hadir di tempat masyarakat beraktivitas.
CFD menjadi salah satu ruang yang memungkinkan konsep tersebut berjalan. Warga datang untuk olahraga. Pelayanan paspor tersedia. Tidak perlu perjalanan khusus ke kantor. Tidak perlu mengorbankan hari kerja. Bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi, fleksibilitas semacam ini dapat menjadi nilai tambah pelayanan publik.
Ada Layanan Kesehatan Gratis
Pasporia CFD juga dikemas bersama kegiatan Sunday Vibes yang dihadirkan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jakarta bersama Imigrasi Jakarta Barat. Tidak hanya layanan paspor, masyarakat juga dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan gratis dari Klinik Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).
Konsep tersebut membuat kegiatan akhir pekan menjadi lebih lengkap. Masyarakat bisa bergerak bersama, menjaga kesehatan, sekaligus mendapatkan pelayanan publik. Pendekatan ini juga memperluas interaksi antara jajaran imigrasi dengan masyarakat di ruang publik.
Perlahan Mengubah Cara Masyarakat Melihat Pelayanan
Pelayanan publik tidak selalu diukur dari seberapa megah gedung atau seberapa canggih teknologi yang digunakan. Sering kali, masyarakat justru mengingat hal yang lebih sederhana.
Seberapa mudah mereka mendapatkan layanan. Seberapa cepat petugas memberikan informasi. Seberapa ramah mereka dilayani. Dan apakah proses yang dijalani membuat mereka merasa dipermudah. Pasporia CFD mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan jemput bola.
Bagi Imigrasi Jakarta Barat, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kembali kedekatan dengan masyarakat setelah institusi tersebut sempat mendapat sorotan akibat kasus suap yang melibatkan pejabat pada periode kepemimpinan sebelumnya.
Kepercayaan publik tentu tidak bisa dipulihkan hanya dengan satu program. Ia dibangun melalui proses panjang dan konsistensi pelayanan. Karena itu, kehadiran pimpinan di lapangan, keterbukaan terhadap masyarakat, serta inovasi pelayanan menjadi bagian dari proses tersebut.
Rakha pun menempatkan pelayanan langsung sebagai salah satu cara untuk memastikan perubahan tidak berhenti pada konsep.
“Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui kerja nyata dan konsistensi. Kami ingin setiap pelayanan menjadi bukti bahwa Imigrasi Jakarta Barat terus berbenah dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat,” jelasnya.
Dari kantor ke CFD. Dari menunggu menjadi menjemput. Dari sekadar melayani menjadi mendengarkan. Imigrasi Jakarta Barat kini mencoba membangun wajah pelayanan yang berbeda.
Capaian 125 kuota dalam waktu kurang dari dua jam mungkin hanya satu catatan dalam perjalanan panjang. Tetapi jika konsistensi itu terus dijaga, angka tersebut dapat menjadi bagian dari cerita yang lebih besar: cerita tentang pelayanan yang perlahan merebut kembali kepercayaan masyarakat melalui kerja nyata. (ELN)