Momen Warga Binaan Lapas I Tangerang Menata Hati
Jakarta, Ballebale.com – Tembok tinggi dan pintu besi Lapas Kelas I Tangerang tak menghalangi wargar binaan untuk mencari ruang refleksi. Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah justru dimanfaatkan sebagai k4tt6yyesempatajn menata hati dan memperkuat tekad untuk berubah.
Peringatan Maulid digelar di Masjid Baitussalam, Lapas Kelas I Tangerang, Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Lapas Kelas I Tangerang Beni Hidayat, pejabat struktural, pegawai, peserta magang, hingga warga binaan.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan hadroh dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Santri At-Tawabin. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Kepala Lapas dan tausiah keagamaan.
Bagi Beni, Maulid Nabi bukan sekadar agenda tahunan atau kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Momentum tersebut dapat menjadi pengingat bahwa proses memperbaiki diri harus terus dilakukan.
“Maulid bukan hanya untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi bagaimana kita mengambil keteladanan beliau untuk memperbaiki diri,” ujar Beni.
Ia mengajak warga binaan meneladani sikap Rasulullah, terutama dalam hal kesabaran, kejujuran, kepedulian, serta kemauan untuk terus melakukan introspeksi.
Beni juga mengingatkan ba¾hwa masa menjalani pidana dapat menjadi waktu untuk mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Menurut dia, pembinaan tidak hanya berbicara mengenai kegiatan yang berlangsung di dalam lapas. Lebih jauh, pembinaan diarahkan agar warga binaan memiliki bekal ketika kembali menjalani kehidupan sosial.ĥĥ
Ketika Dzikir Tak Berhenti di Lisan
Suasana kegiatan semakin hidup ketika Ustaz Muhammad Hafiz Salim, S.E.I., M.Pd.I. menyampaikan tausiah.
Ceramah dikemas santai dengan humor dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski ringan, pesan yang disampaikan menyentuh persoalan mendasar: bagaimana seseorang mensyukuri kehidupan dan menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk berubah.
Ustaz Hafiz mengajak peserta mensyukuri berbagai nikmat, termasuk kesehatan, kehidupan, kesempatan beribadah, keimanan, dan kesempatan untuk berdzikir.
Ia menekankan bahwa dzikir seharusnya tidak berhenti pada ucapan.
Nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan tercermin melalui perubahan hati dan perilaku. Dengan kata lain, semakin dekat seseorang kepada nilai-nilai spiritual, semakin kuat pula dorongan untuk memperbaiki sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi warga binaan yang tengah menjalani proses pembinaan.
Perubahan Tak Selalu Datang dengan Gebrakan
Kepala Divisi Pembinaan Narapidana Dwi Fu’ad Jamali mengatakan perubahan tidak selalu ditandai dengan sesuatu yang besar.
Menurutnya, perubahan justru dapat terlihat dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Misalnya, semakin mampu mengendalikan emosi, meningkatkan kualitas ibadah, mensyukuri kehidupan, hingga membiasakan diri berpikir sebelum bertindak.
“Perubahan merupakan sebuah proses. Ketika warga binaan mulai memperbaiki ibadah, mampu mengendalikan emosi, bersyukur, dan berpikir sebelum bertindak, itu sudah menjadi bagian dari perubahan,” kata Dwi.
Karena itu, kegiatan keagamaan menjadi salah satu bagian dari proses pembinaan yang diharapkan dapat menyentuh aspek mental dan kepribadian warga binaan.
Bukan Hanya Menunggu Bebas
Salah seorang warga binaan berinisial Ri mengaku mendapatkan pelajaran penting dari tausiah tersebut. Ia mulai menyadari bahwa menjalani masa pidana bukan hanya persoalan menunggu hingga waktunya bebas.
Ada proses yang harus dijalani untuk mempersiapkan diri sebelum kembali kepada keluarga. Ri mengatakan dirinya ingin ketika kembali nanti, keluarganya melihat perubahan dalam dirinya.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa proses pembinaan memiliki dimensi yang lebih panjang. Warga binaan tidak hanya dipersiapkan untuk menyelesaikan masa pidana, tetapi juga didorong agar mampu membangun kembali kehidupannya setelah kembali ke masyarakat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Lapas Kelas I Tangerang pun menjadi ruang refleksi.
Di tempat yang dikelilingi tembok dan pintu besi itu, pesan tentang perubahan justru menemukan ruang yang kuat. Sebab, perubahan tidak selalu membutuhkan tempat yang sempurna. Terkadang, ia hanya membutuhkan satu kesadaran sederhana: masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik. (ELN)