Gunung Sindur Genjot Ketahanan Pangan dari Balik Lapas
Bogor, Ballebale.com – Keterbatasan lahan tidak menghalangi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Jawa Barat, untuk memperkuat program ketahanan pangan.
Berbagai lahan yang tersedia terus dioptimalkan agar tidak menjadi ruang kosong, tetapi berubah menjadi kawasan produktif yang memberikan manfaat nyata.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur Bambang Wijanarko mengatakan optimalisasi lahan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan karakteristik setiap area.
Menurut dia, seluruh potensi lahan terus dipetakan untuk menentukan pemanfaatan yang paling tepat, baik untuk pertanian maupun peternakan.
“Kami memanfaatkan semua lahan yang ada. Sedikit demi sedikit kami optimalkan untuk ketahanan pangan dan alhamdulillah programnya sudah berjalan serta mulai menghasilkan,” kata Bambang saat meresmikan Lahan Pangan Mandiri di dalam Lapas Gunung Sindur, Jumat (21/8/2026).
Ia menegaskan, pihaknya berupaya memastikan tidak ada lahan yang dibiarkan tanpa produktivitas.
“Pokoknya tidak ada lahan yang tidur. Semua kami manfaatkan, termasuk yang ada di beranggang, tetapi tetap disesuaikan dengan peruntukannya,” ujarnya.
Tanah Kurang Subur Tak Jadi Penghalang
Bambang mengakui tidak seluruh area di lingkungan lapas memiliki kondisi tanah yang ideal untuk kegiatan pertanian. Namun, keterbatasan tersebut disiasati dengan metode budidaya yang menyesuaikan kondisi lahan.
Salah satunya dengan menggunakan polybag sebagai media tanam. Metode tersebut memungkinkan komposisi media dan nutrisi diatur sesuai kebutuhan tanaman.
“Kalau lahannya tidak produktif untuk pertanian, kami arahkan ke peternakan. Tidak bisa dipaksakan kalau tanahnya memang tidak subur,” katanya.
Ia menambahkan, kualitas tanah menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan jenis kegiatan yang akan dikembangkan.
“Berhubung kualitas tanah di sini kurang, kami menggunakan polybag sehingga medianya bisa dicampur sesuai dengan nutrisi yang dibutuhkan,” ujar Bambang.
Dari Produksi Internal Menuju Suplai Antar-Lapas
Program ketahanan pangan Gunung Sindur tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal. Dalam jangka panjang, hasil produksi diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi satuan kerja pemasyarakatan lainnya.
Bambang mengatakan pihaknya ingin terlebih dahulu memastikan sistem produksi di Gunung Sindur berjalan optimal sebelum memperluas cakupan pemanfaatannya.
“Kami fokus dulu supaya di sini berhasil. Kalau produktivitasnya sudah bagus, nanti ke depan kami kembangkan,” tuturnya.
Ia berharap, pengembangan tersebut nantinya dapat mengikuti keberhasilan produksi pangan lainnya sehingga hasil dari Gunung Sindur bisa dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan lapas lain.
“Mudah-mudahan nanti seperti beras, kami juga bisa menyuplai lapas-lapas lain,” kata Bambang.
Berharap Ada Tambahan Lahan
Keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri dalam memperluas skala produksi. Karena itu, peluang pemanfaatan lahan idle menjadi salah satu opsi yang dapat diajukan apabila tersedia dan sesuai dengan ketentuan.
Meski demikian, Bambang menekankan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru melakukan ekspansi sebelum program yang telah berjalan benar-benar menunjukkan produktivitas yang baik.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan di Lapas Narkotika Gunung Sindur dibangun melalui proses bertahap: mengoptimalkan lahan yang tersedia, menyesuaikan komoditas dengan kondisi lingkungan, meningkatkan produktivitas, kemudian memperluas manfaatnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan pangan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. Mereka dilibatkan dalam aktivitas produktif sehingga memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.
Bambang berharap pemanfaatan lahan tersebut terus berkembang dan mampu memberikan dampak lebih luas.
“Yang penting sekarang bagaimana yang ada ini produktif dulu. Setelah berhasil dan hasilnya bagus, tentu akan kami kembangkan lebih jauh,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, lahan terbatas di balik tembok pemasyarakatan perlahan diarahkan menjadi sumber produktivitas. Dari ruang yang terbatas, Gunung Sindur mencoba menumbuhkan manfaat yang tidak terbatas untuk ketahanan pangan sekaligus masa depan warga binaan. (ELN)