Skip to content
Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi

Find Us

Address
123 Main Street
New York, NY 10001

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi
Close

Search

Home/Army and Police/Bedah Film Jihad Selfie, Densus 88 Ajak Sekolah dan Keluarga Perkuat Deteksi Dini Radikalisme
Army and Police

Bedah Film Jihad Selfie, Densus 88 Ajak Sekolah dan Keluarga Perkuat Deteksi Dini Radikalisme

By Darmo Gandul
August 20, 2026

JAKARTA,Ballebale.com — Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) DKI Jakarta menggelar bedah film Jihad Selfie dan diskusi interaktif di Jakarta, Selasa (19/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari Ketua OSIS, guru, komite sekolah, serta wali murid SMA dan MA negeri maupun swasta se-DKI Jakarta.

Bedah film ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran sekolah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Peserta juga diajak meningkatkan kewaspadaan terhadap kekerasan, perundungan atau bullying, propaganda di media sosial, paham radikal, hingga Nihilistic Violent Extremism (NVE).

Direktur Pencegahan Densus 88 AT Polri yang diwakili Kasubdit Kontra Ideologi Ditcegah Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Moh Dofir, mengatakan keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam menjaga masa depan generasi muda.

“Keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan rasa aman, perhatian, ruang dialog, serta lingkungan yang nyaman dan bebas dari bullying,” ujar Dofir.

Menurut dia, keterlibatan keluarga dan sekolah dibutuhkan agar anak memiliki ruang yang sehat untuk berkomunikasi dan mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Adib menekankan pentingnya pemahaman keagamaan yang moderat dan sejalan dengan prinsip kebangsaan.

Ia mengatakan pendidikan agama perlu mendorong penghormatan terhadap keragaman dan perbedaan serta menolak segala bentuk kekerasan.

Dari sektor pendidikan, Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta Ali Mukodas mengatakan pencegahan terorisme tidak semata-mata berkaitan dengan upaya mencegah aksi kekerasan.

Menurut dia, pencegahan juga merupakan bagian dari pembangunan karakter agar generasi muda tidak mudah terpecah oleh perbedaan maupun terpengaruh narasi kebencian.

“Pencegahan terorisme pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah sebuah tindakan kekerasan, melainkan kita sedang membangun generasi yang tidak mudah dipecah oleh perbedaan dan tidak mudah dihasut oleh kebencian,” kata Ali.

Waspadai Paparan di Ruang Digital

Dalam diskusi interaktif, Densus 88 AT Polri melalui Kompol Agus Isnaini menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam upaya pencegahan radikalisme.

Menurut dia, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi ekstrem dengan menyasar kelompok remaja.

“Anak diperkenalkan pada konten atau figur bernuansa keluhan, ketidakadilan, atau kebencian sering lewat game online, forum atau media sosial,” ujar Agus.

Karena itu, pendampingan terhadap anak dinilai penting, terutama dalam membangun kemampuan untuk mengenali informasi dan narasi yang berpotensi mengarah pada kekerasan.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI Ruspita Putri Utami juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif sekaligus memiliki kemampuan deteksi dini.

“Jangan lagi ada eksklusivisme di sekolah. Harus inklusif, benar-benar inklusif, dan yang cukup paling penting adalah kemampuan sekolah melakukan deteksi dini,” kata Ruspita.

Sementara itu, Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Ignatius Setiawan Cahyo Nugroho menilai upaya perlindungan anak dan pencegahan eksploitasi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

“Kita sering memberikan jawaban tidak sistemik, sedangkan masalahnya sistemik. Agar kita bisa berpikir sistemik maka kita perlu berpikir secara komprehensif,” ujarnya.

Melalui film Jihad Selfie dan diskusi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana paparan ideologi kekerasan dapat terjadi, termasuk melalui lingkungan digital, sekaligus pentingnya komunikasi antara anak, orang tua, dan sekolah.

Kegiatan ini diharapkan memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kemampuan deteksi dini di lingkungan pendidikan, serta mendorong terciptanya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan maupun pengaruh ideologi ekstrem.

Tags:

Densus88JihadSelfiePelajarRadikalisme
Author

Darmo Gandul

Follow Me
Other Articles
Previous

Merdeka Run 2026 Tinggal 10 Hari, Suryo Agung Bagikan Tips Lari 8 Kilometer

Next

Fathimah Azzahra, Dokter Masa Depan yang Menantang Seragam Biru di Sudirman

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About This Site

Balle bale  “MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA”

Recent Posts

  • Diplomasi Budaya Indonesia–Palestina Menguat, BMDN dan IKB Jabodetabek Siapkan Budayantara Fest 2026
  • Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Situasional, Warga Diimbau Rencanakan Perjalanan
  • SATGAS KEPOLISIAN OPERASI DAMAI CARTENZ UNGKAP KASUS PENEMBAKAN ASN KONSULTAN BPKAD DI YAHUKIMO
  • Polda Metro Jaya Matangkan Pengamanan dan Pelayanan Masyarakat Jelang 24 September
  • Polda Banten Ungkap Hasil Identifikasi Korban Kapal Arupadhatu 1

Archives

  • September 2026 (468)
  • August 2026 (269)
  • July 2026 (362)
  • June 2026 (53)

Find Us

Address
Jakarta Selatan
DKI Jakarta , Indonesia

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

Copyright 2026 — Balle Bale. All rights reserved. MTM Network