“Tabobale” Bergema, Glenn Fredly Kembali Menyatukan Timur dan Indonesia
JAKARTA,BalleBale.com-|Sabtu malam di Lapangan Hockey Plaza Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, bukan sekadar panggung konser. Ia menjelma ruang temu bagi ribuan orang yang datang membawa kenangan, kerinduan, dan rasa memiliki terhadap sosok Glenn Fredly. Di bawah langit Jakarta, lagu-lagu yang pernah lahir dari hati musisi asal Ambon itu kembali menemukan rumahnya: dinyanyikan bersama, dirasakan bersama.
Konser Glenn Fredly Kembali ke Timur, yang dipromotori 100AS dan BUMI Entertainment, menjadi perayaan atas warisan musikal sekaligus semangat persaudaraan yang selama ini ditinggalkan Glenn. Sebanyak 21 musisi lintas generasi berbagi satu panggung, menghadirkan warna-warna Indonesia Timur yang sejak dahulu menjadi bagian penting dari perjalanan berkesenian Glenn.
Sejak sore, arus penonton terus mengalir memasuki kawasan Plaza Festival. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula kelompok anak muda yang tumbuh bersama lagu-lagu Glenn meski tak pernah menyaksikan sang musisi tampil secara langsung. Di sela antrean, tenant UMKM, stan kuliner, hingga penjual merchandise dipenuhi pengunjung, menghadirkan denyut ekonomi kreatif yang bergerak seiring ramainya konser.
Saat matahari mulai tenggelam, panggung perlahan mengambil alih perhatian. Moluccan Soul membuka malam dengan suguhan musik yang hangat dan akrab di telinga. Suasana kemudian berubah semakin dinamis ketika dua DJ asal Belanda, Miguel Kaidel dan Maria De Lima, meramu lagu-lagu Indonesia Timur dalam balutan musik elektronik. Dentuman beat modern berpadu dengan melodi etnik, membuat ribuan penonton larut berjoget tanpa canggung.
Memasuki malam, energi konser terus meningkat. Silet Open Up, Toton Caribo, Fresly Nikijuluw, Mitha Talahatu, Doddie Latuharhary, hingga Wizz Baker bergantian menghidupkan panggung bersama iringan Dennis & Friends. Setiap penampilan menghadirkan karakter berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: merayakan identitas musik Indonesia Timur.
Salah satu momen paling membekas hadir ketika Silet Open Up membawakan “Tabobale”. Lagu itu seketika menjadi milik semua orang. Ribuan suara bersatu, tangan-tangan terangkat mengikuti irama, sementara penonton berjoget tanpa memandang usia maupun latar belakang. Panggung dan area penonton melebur menjadi satu perayaan yang penuh kegembiraan.
Nuansa berubah menjadi lebih hening ketika pertunjukan spesial “Re/Imagine Glenn Fredly with The Bakuucakar” dimulai. Visual Glenn Fredly tampil di layar raksasa, seolah kembali bernyanyi bersama iringan musik langsung dari The Bakuucakar. Teknologi tidak menggantikan kehadiran Glenn, tetapi menghadirkan kembali rasa yang pernah ia tinggalkan.
Momen emosional itu semakin lengkap lewat kolaborasi Marion Jola, Mutia Ayu, Fresly Nikijuluw, Mitha Talahatu, Doddie Latuharhary, dan Matthew Sayersz. Mereka membawakan karya-karya Glenn dengan aransemen baru tanpa menghilangkan ruh yang selama ini melekat pada lagu-lagunya. Penonton tak sekadar menyaksikan pertunjukan, melainkan ikut bernyanyi dalam sebuah kenangan kolektif.
Bagi Mutia Ayu, malam itu bukan sekadar mengenang sosok Glenn Fredly.
“Glenn Fredly Kembali ke Timur bukan sekadar konser, tapi sebuah perayaan karya dan cinta yang Glenn tinggalkan untuk kita semua. Semoga semua yang hadir pulang dengan hati yang penuh dan membawa kenangan indah,” ujarnya.
Kesan serupa dirasakan Rian (30), salah seorang penonton yang sengaja datang untuk merasakan atmosfer yang selama ini hanya ia kenal lewat rekaman lagu-lagu Glenn.
“Ini bukan hanya konser. Semua orang bernyanyi bersama, saling menyapa, dan menikmati musik tanpa sekat. Waktu Silet Open Up membawakan ‘Tabobale’, suasananya benar-benar pecah. Semua berjoget bersama. Rasanya seperti merayakan Glenn dengan cara yang paling indah,” katanya.
Pada akhirnya, konser ini menunjukkan bahwa warisan Glenn Fredly tidak berhenti pada deretan lagu yang pernah ia ciptakan. Ia hidup melalui kolaborasi, regenerasi musisi Indonesia Timur, serta kebersamaan yang tumbuh di antara ribuan orang yang hadir malam itu. Musik menjadi bahasa yang melampaui batas wilayah, usia, maupun latar belakang.
Di tengah industri pertunjukan yang terus berkembang, Glenn Fredly Kembali ke Timur membuktikan bahwa sebuah konser dapat menjadi ruang budaya, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus pengingat bahwa karya yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk terus bergema. Malam itu, Glenn mungkin telah tiada, tetapi semangatnya kembali pulang ke Timur dan dari Timur, kembali menyapa Indonesia.