Terowongan Silaturahmi Jadi Penutup Sidang FABC 2026, Indonesia Tunjukkan Wajah Harmoni Lintas Agama
JAKARTA,BalleBale.com – Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta kembali menjadi simbol kuat toleransi Indonesia di mata dunia. Sebanyak 120 kardinal dan uskup dari 22 Konferensi Waligereja anggota Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) menutup rangkaian Sidang Pleno FABC 2026 dengan mengunjungi ikon persaudaraan lintas agama tersebut, Minggu (26/7).
Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan pengalaman langsung menyaksikan bagaimana dialog antarumat beragama diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi para pemimpin Gereja Katolik Asia, Terowongan Silaturahmi menjadi representasi nyata bahwa perbedaan keyakinan dapat dirawat dalam semangat saling menghormati.
Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Istiqlal dibangun bukan hanya sebagai pusat ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai ruang dialog, pendidikan, dan penguatan moderasi beragama. Menurutnya, berbagai kalangan, mulai dari akademisi, tokoh agama hingga masyarakat umum, rutin berdiskusi di Istiqlal untuk memperkuat pemahaman tentang kehidupan beragama yang damai.
Selain itu, Kementerian Agama bersama Masjid Istiqlal terus mengembangkan program kaderisasi ulama yang berorientasi pada nilai-nilai moderasi, termasuk menyiapkan ulama perempuan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran perempuan dalam kehidupan keagamaan.
Bagi Nasaruddin, Terowongan Silaturahmi memiliki makna yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai penghubung dua rumah ibadah. Ia menggambarkan, di tengah terowongan, suara bedug dari Masjid Istiqlal dan dentang lonceng Gereja Katedral terdengar bersamaan, menghadirkan simbol bahwa keberagaman di Indonesia tidak saling meniadakan, melainkan berpadu dalam harmoni.
Apresiasi juga datang dari Presiden FABC, Kardinal Filipe Neri Ferrão. Ia menilai Indonesia telah menunjukkan contoh konkret bagaimana dialog lintas agama dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menjadi wacana di forum internasional.
Menurut Ferrão, kunjungan tersebut sekaligus menghidupkan kembali semangat Deklarasi Bersama Istiqlal 2024 yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar. Deklarasi itu dinilai menjadi tonggak penting dalam memperkuat persaudaraan lintas agama demi kemanusiaan.
Ia menambahkan, agama-agama memiliki tanggung jawab bersama menjaga martabat manusia dan membangun perdamaian. Karena itu, pengalaman melintasi Terowongan Silaturahmi menjadi pengingat bahwa jembatan persaudaraan harus terus dibangun melalui langkah-langkah nyata yang melibatkan seluruh pemeluk agama.(**)