Imigrasi Turun ke Sekolah, PIMPASA Jadi Tameng Pelajar dari TPPO
Jakarta, Ballebale.com – Perdagangan orang kini tidak lagi hanya mengincar masyarakat yang sudah bekerja. Pelajar juga menjadi kelompok yang rentan menjadi korban melalui berbagai modus, mulai dari tawaran kerja bergaji tinggi, beasiswa, hingga ajakan magang ke luar negeri yang tidak sesuai prosedur.
Untuk memperkuat benteng perlindungan sejak dini, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Khusus Jakarta bersama Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat menggelar PIMPASA Goes to School di SMK Negeri 11 Jakarta Barat.
Program edukasi tersebut dibuka langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi DK Jakarta Pamuji Raharja, didampingi Kepala Bidang Intelijen dan Kepatuhan Internal Hamdan Muhammad Al Amin, serta Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat Rakha Sukma Purnama.
Dalam arahannya, Pamuji menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki mimpi besar untuk menempuh pendidikan maupun berkarier hingga ke tingkat internasional. Namun, menurutnya, seluruh proses tersebut harus dilakukan melalui jalur yang legal dan sesuai ketentuan hukum.
“Kami ingin generasi muda Indonesia berani bermimpi menembus dunia. Tetapi setiap langkah harus ditempuh melalui prosedur resmi agar tidak menjadi korban perdagangan orang maupun kejahatan lintas negara,” ungkap Pamuji kepada Jurnalis Mitra Imigrasi dan Pemasyarakatan (JMIP), Kamis (16/7).
“Jangan pernah mudah tergiur tawaran yang menjanjikan keuntungan besar tanpa dasar yang jelas. Imigrasi hadir untuk memberikan edukasi sekaligus perlindungan kepada masyarakat,” ujar tambahnya.
Ia menambahkan, edukasi keimigrasian di sekolah menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sadar hukum dan mampu mengenali berbagai modus kejahatan transnasional yang kini banyak beredar melalui media digital.
Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat Rakha Sukma Purnama mengajak seluruh siswa menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan kritis dalam menerima informasi.
“Kami berharap para pelajar tidak hanya memahami cara membuat paspor, tetapi juga mengetahui fungsi Imigrasi sebagai pelindung masyarakat. Selalu pastikan informasi mengenai bekerja, kuliah, atau bepergian ke luar negeri diperoleh dari sumber resmi agar tidak menjadi korban penipuan maupun TPPO,” kata Rakha.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Seksi Penindakan Keimigrasian Deny Arli memberikan materi mengenai berbagai modus perdagangan orang yang kerap menyasar kalangan pelajar.
Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai prosedur migrasi aman, fungsi keimigrasian, hingga langkah yang harus dilakukan apabila menerima tawaran bekerja atau belajar di luar negeri.
Antusiasme para siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mengikuti sesi edukasi yang dikemas secara interaktif sehingga materi mudah dipahami.
Program PIMPASA Goes to School merupakan bagian dari komitmen Direktorat Jenderal Imigrasi dalam memperluas literasi keimigrasian kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui pendekatan langsung ke lingkungan sekolah, Imigrasi berharap lahir pelajar yang sadar hukum, memahami pentingnya migrasi yang aman, serta mampu menjadi agen informasi dalam mencegah praktik perdagangan orang di lingkungan sekitarnya.
Dengan edukasi sejak dini, Imigrasi optimistis semakin banyak generasi muda yang dapat memanfaatkan peluang pendidikan dan pekerjaan di luar negeri secara legal, aman, dan bertanggung jawab. (ELN)