Dari Gubuk Kumuh ke Rumah Sakit RSUD Jatisampurna, Perjuangan Mengembalikan Hak Hidup Layak bagi Hanan
BEKASI,BalleBale.com -| Secercah harapan mulai menyinari kehidupan Hanan (68), seorang lansia dengan gangguan jiwa yang selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan di sebuah gubuk sederhana di Kampung Kranggan, Kelurahan Jatisampurna, Kota Bekasi. Setelah kisahnya menjadi perhatian publik, Hanan kini telah menjalani perawatan di Rumah Sakit RSUD Jatisampurna.
Ketua Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kota Bekasi, khususnya Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan, yang merespons kondisi Hanan dengan mengambil untuk mendapatkan penanganan medis.
“Alhamdulillah, kini Hanan sudah menjalani rawat inap,” ujar Eddie Karsito, Senin (6/7/2026).
Menurut Eddie, proses pendampingan tidak henti-hentinya. Pihaknya masih akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Bekasi untuk menentukan langkah terbaik setelah perawatan di rumah sakit selesai. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah apakah Hanan tetap menjalani rawat jalan bersama keluarganya atau ditempatkan di panti rehabilitasi sosial bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan kondisi Hanan masih cukup kooperatif. Ia dinilai masih memungkinkan menjalani perawatan jalan dengan pendampingan keluarga serta konsumsi obat secara rutin.
Di balik proses pemulihan itu, tersimpan kisah panjang tentang keterbatasan. Sejak mengalami gangguan jiwa pada usia sekitar 15 tahun, Hanan tidak pernah memiliki dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK). Usianya pun hanya dapat diperkirakan berdasarkan usia sepupunya, Mak Niah binti Sain, yang kini berusia 67 tahun.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Hanan dirawat oleh Mak Niah dan keluarganya yang hidup dalam kondisi ekonomi serba kekurangan. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana yang jauh dari kata layak huni.
Keterbatasan tersebut bahkan membuat keluarga terpaksa memasung Hanan sebagai langkah terakhir untuk mencegah dirinya melukai dirinya sendiri, mengamuk, atau meninggalkan rumah tanpa pengawasan. Bagi keluarga, tindakan itu bukan pilihan, melainkan akibat tidak adanya akses terhadap layanan kesehatan jiwa yang memadai.
Mak Niah, yang bekerja sebagai pemulung, mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk membawa Hanan menjalani pengobatan secara rutin. Akibatnya, selama bertahun-tahun Hanan hidup tanpa penanganan medis yang layak.
Eddie Karsito berharap perhatian terhadap Hanan tidak berhenti pada proses pengobatan semata. Ia mendorong adanya dukungan berkelanjutan, mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, jaminan layanan kesehatan, hingga penyediaan tempat tinggal yang lebih manusiawi.
Menurutnya, pemulihan Hanan bukan hanya tentang penyembuhan, tetapi juga mengembalikan hak-hak dasar seorang warga negara untuk hidup dengan martabat dan memperoleh perlindungan sosial.| Foto : Eddie Karsito