Skip to content
Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

Balle Bale Balle Bale

MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi

Find Us

Address
123 Main Street
New York, NY 10001

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

  • HOME
  • News
  • Jakarta News
  • Army and Police
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Sport
  • Redaksi
Close

Search

Home/Entertainment/Misteri Perhiasan Terkutuk dari Majalengka Diangkat Jadi Film Horor Rarangken
Entertainment

Misteri Perhiasan Terkutuk dari Majalengka Diangkat Jadi Film Horor Rarangken

By Darmo Gandul
October 26, 2026

Jakarta,Ballebale.com- Film horor Indonesia semakin berani mengeksplorasi kekayaan budaya lokal sebagai sumber cerita. Tak melulu mengandalkan penampakan hantu dan adegan mengejutkan, mitos hingga kepercayaan leluhur kini menjadi daya tarik tersendiri di layar lebar.

Hal itu mengemuka dalam diskusi Let’s Talk to Horror yang digelar Festival Film Horor (FFH) edisi ke-11 di Kafe Kopi Pagi, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, FFH menetapkan Pirunduk sebagai film terbaik edisi Oktober 2026. Acara ini juga menjadi ajang pengenalan film horor terbaru produksi PAS Productions bertajuk Rarangken, yang mengangkat legenda mistis masyarakat Sunda.

Diskusi menghadirkan budayawan sekaligus sastrawan Fanny G Poyk, produser Wan Emily Sjahrir, anggota Dewan Penasihat MASDA Ambu Rd Sonia Soema, serta Tsania Prilla. Acara dipandu Alyne Malarif dan Cank Mail, dengan Mesya Siregar sebagai pembawa acara.

Horor Lokal Punya Kekuatan Tersendiri

Fanny G Poyk menilai perpaduan budaya dan mistik masih menjadi kekuatan yang mampu menarik minat penonton film horor Indonesia.

Menurutnya, cerita yang dekat dengan kehidupan dan kepercayaan masyarakat memiliki daya tarik tersendiri. Terlebih, Indonesia menyimpan banyak tradisi dan legenda yang belum sepenuhnya dieksplorasi sineas nasional.

Di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), Fanny berharap pelaku industri perfilman tetap mampu mempertahankan identitas karya melalui kekayaan budaya bangsa.

“Semuanya terletak pada pelaku perfilman Indonesia untuk melihat perkembangan perfilman yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia saat ini. Semoga dunia perfilman Indonesia semakin maju meski harus bersaing dengan situasi perfilman global,” ujar Fanny.

Senada dengan Fanny, produser Rarangken, Wan Emily Sjahrir, mengatakan sebuah film harus memiliki sesuatu yang membedakannya dari karya lain.

Ia tak ingin film horor sekadar mengulang formula yang sudah sering disajikan kepada penonton. Menurutnya, keberanian mengeksplorasi budaya lokal bisa menjadi jalan untuk menghadirkan tontonan berbeda.

“Film itu harus ada pembedanya. Kalau sama, sebaiknya tak perlu buat, tetapi nonton saja. Kalau ingin membuat film, harus out of the box, keluar dari kebiasaan, terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.

Rarangken, Perhiasan Mistis yang Menyimpan Kutukan

Salah satu hal menarik dari film Rarangken adalah pengangkatan kepercayaan leluhur masyarakat Pasundan terhadap benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan magis.

Ambu Rd Sonia Soema menjelaskan, Rarangken dalam cerita film tersebut merujuk pada perhiasan atau benda tertentu yang dipercaya menyimpan kekuatan supranatural.

Benda itu berkaitan erat dengan ritual adat, termasuk sejumlah pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Menurut Ambu Sonia, benda yang menjadi inspirasi cerita tersebut disebut berasal dari wilayah Majalengka, Jawa Barat.

Dalam kepercayaan yang diangkat ke layar lebar itu, siapa pun yang melanggar aturan ketika membuka atau menyentuh benda tersebut diyakini dapat mendatangkan malapetaka.

Unsur inilah yang kemudian dikembangkan menjadi kisah horor dengan latar tradisi Sunda.

Sementara itu, Tsania Prilla mengaku keterlibatannya dalam film Rarangken memberikan pengalaman baru, terutama dalam mengenal budaya leluhurnya sendiri.

Meski memiliki latar keluarga Sunda, ia mengaku sebelumnya belum memahami secara mendalam makna Rarangken dan berbagai kepercayaan yang melingkupinya.

Melalui film tersebut, ia mendapat kesempatan menggali lebih jauh kekayaan tradisi masyarakat Pasundan.

Teror Nyi Larang dan Rahasia Kelam Sebuah Keluarga

Film Rarangken sendiri memadukan misteri keluarga, legenda Sunda, dan kutukan yang diwariskan lintas generasi.

Diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H. sebagai sutradara, film ini mengikuti perjalanan Ranti yang diperankan Vanny Meisella.

Kisah bermula ketika Ranti kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat.

Namun, kedatangan mereka justru menjadi awal dari serangkaian kejadian mengerikan.

Teror muncul setelah sebuah benda misterius bernama Rarangken dipindahkan dari tempatnya. Tindakan tersebut tanpa disadari membangkitkan sosok Nyi Larang, yang menyimpan hubungan dengan tragedi kelam pada masa lalu.

Ranti kemudian berusaha mengungkap misteri di balik benda tersebut. Penelusurannya membawa dia pada rahasia keluarga yang telah terkubur selama puluhan tahun.

Ketika Ranti mencoba menghancurkan Rarangken demi mengakhiri teror, kenyataan mengejutkan justru muncul. Kutukan yang selama ini menghantui keluarganya ternyata belum benar-benar berakhir.

Selain Vanny Meisella, film ini turut dibintangi Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, Ambu Rd Sonia Soema sebagai tetua adat, Achmad Bayhaqi A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, serta Fardan Tamaela sebagai Jati.

Ada pula Zara sebagai Rara, Tiara Khorunisa sebagai Ami, Felicia sebagai Ranti kecil, dan Bhadra sebagai Jati kecil.

Melalui Rarangken, PAS Productions berupaya menghadirkan film horor yang tak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga memperkenalkan kembali mitos dan warisan budaya Sunda kepada generasi muda.

Diskusi FFH edisi ke-11 pun menegaskan bahwa kekayaan budaya Nusantara masih menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan menjadi cerita film.

Sebab, ketakutan dalam film horor tak selalu datang dari sosok menyeramkan. Terkadang, justru lahir dari rahasia leluhur dan pantangan yang diwariskan turun-temurun.[**]

Tags:

FestivalFilmHororFFHRarangken
Author

Darmo Gandul

Follow Me
Other Articles
Previous

Berawal dari Mimpi Suami, Dian Rosdiani Besarkan Shuba Coffee Lewat Komunitas Barista

Next

Polisi Peduli Pendidikan, Polda Metro Jaya Edukasi Siswa Cegah Perundungan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About This Site

Balle bale  “MENGHATARKAN BERITA TERBAIK DAN TERPERCAYA”

Recent Posts

  • Operasi Patuh Jaya 2026, Polres Metro Bekasi Kota Ajak Masyarakat Wujudkan Lalu Lintas Tertib, Aman dan Berkeselamatan
  • Ketua Komisi III DPR Apresiasi Kapolri Suyudi Pimpin Langsung Pemberantasan Narkoba
  • Tak Sekadar Jaga Keamanan, Polri Ajak Pelajar Peduli Pendidikan dan Lingkungan
  • Polri Terjunkan 200 Personel Brimob dan 10 Personel Bareskrim Tangani Karhutla di Kalimantan
  • Operasi Patuh Jaya 2026 Dimulai, Kapolda Metro Jaya Tekankan Keselamatan Berlalu Lintas

Archives

  • October 2026 (353)
  • September 2026 (594)
  • August 2026 (269)
  • July 2026 (362)
  • June 2026 (53)

Find Us

Address
Jakarta Selatan
DKI Jakarta , Indonesia

Hours
Monday–Friday: 9:00AM–5:00PM
Saturday & Sunday: 11:00AM–3:00PM

Copyright 2026 — Balle Bale. All rights reserved. MTM Network