Melampaui Sekadar Silaturahmi: SWI Jaya Merajut Kembali Marwah Pers Lewat Soliditas dan Visi Ekonomi Kreatif
JAKARTA, Ballebale.com – Di tengah gempuran disrupsi informasi dan tantangan ekonomi yang kian menghimpit profesi jurnalis, Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) DKI Jakarta memilih untuk tidak sekadar bertahan. Melalui sebuah Kopi Darat (Kopdar) yang berlangsung intim di Graha Etnikom, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Sabtu (19/9/2026) malam, organisasi ini menegaskan langkah strategisnya: membangun benteng solidaritas yang diperkuat oleh kemandirian ekonomi dan kejelasan visi.
Bertema “Satu Hati, Satu Visi, Satu Solidaritas”, pertemuan yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WIB itu bukan sekadar ritual perkenalan antaranggota. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang refleksi kritis bagi insan pers untuk mendefinisikan ulang peran mereka di tengah dinamika sosial-politik yang semakin kompleks.
Ketua DPW SWI Jaya, Syamsul Arifin atau yang akrab disapa Masdjo, membuka forum dengan nada tegas namun hangat. Ia menekankan bahwa struktur kepengurusan hanyalah tulang punggung; daging dan nyawa organisasi terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kolaborasi yang hidup.
“Kita tidak bisa lagi bergerak secara parsial. Musyawarah untuk menyusun program kerja haruslah inklusif, memastikan setiap suara didengar, dan setiap gagasan diuji ketajamannya,” ujar Syamsul saat memperkenalkan jajaran pengurus baru.
Menata Ulang Identitas dan Akuntabilitas
Dalam diskusi yang mengalir cair, Dewan Pembina SWI Jaya, M. Guntur, menyoroti urgensi profesionalisme internal. Menurutnya, kekuatan sebuah organisasi wartawan tidak lagi diukur dari jumlah anggota, melainkan dari kapasitas kolektif para pengurus dalam membangun ekosistem yang sehat.
“Soliditas bukan berarti keseragaman pendapat, melainkan kemampuan untuk berkolaborasi meski berbeda pandangan. Kualitas SDM pengurus adalah cerminan kredibilitas organisasi di mata publik,” tegas Guntur.
Poin penting lainnya datang dari Dewan Etik DPP SWI, Eddie Karsito. Dengan pendekatan yang sistematis, Eddie mendesak perlunya pendataan pengurus yang rapi dan transparan. Baginya, identitas yang jelas akan melahirkan rasa memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab moral untuk menjaga marwah SWI.
“Organisasi akan kuat jika setiap individu merasa dipanggil untuk berkontribusi, bukan sekadar hadir. Data yang tertata adalah fondasi akuntabilitas,” kata Eddie, sembari membuka ruang bagi peserta untuk menyampaikan gagasan tanpa sekat hierarki.
Ambisi Menuju Kemandirian Ekonomi
Yang membedakan Kopdar kali ini adalah keberanian SWI Jaya untuk menyentuh ranah yang sering dianggap tabu dalam organisasi profesi: ekonomi. Para pengurus secara terbuka mendiskusikan pengelolaan arus kas yang sehat agar tidak menjadi beban anggota, sekaligus merancang unit usaha yang potensial.
Gagasan-gagasan strategis mengemuka, mulai dari konsultasi bisnis dan politik, manajemen komunikasi, hingga penyelenggaraan event. SWI Jaya melihat peluang kemitraan dengan pemerintah, swasta, maupun perorangan sebagai jalan menuju kemandirian finansial.
“Kita harus berani berpikir melampaui fungsi advokasi murni. Membangun branding melalui media sosial dan aktivitas nyata adalah kunci agar organisasi tetap relevan dan memiliki daya tawar,” salah satu poin yang disepakati dalam diskusi tersebut.
Bahkan, terobosan jangka panjang yang cukup mengejutkan namun realistis turut dibahas: program Umrah bagi pengurus melalui mekanisme tabungan bersama. Ini bukan sekadar insentif materiil, melainkan simbol kesejahteraan yang ingin dicapai bersama melalui kerja keras organisasi.
Menuju Rapat Kerja yang Substantif
Kopdar ini ditutup dengan komitmen untuk segera menggelar Rapat Kerja (Raker). Raker nantinya diharapkan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan forum substantif untuk mematangkan prioritas program, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Hadir dalam pertemuan penuh keakraban itu antara lain Eddie Karsito, Made, M. Guntur, Syamsul A. (Masdjo), Dina, Sofie, Donni, Edi T., Dandung, dan Daenk Lolo. Suasana diskusi yang egaliter menunjukkan kematangan SWI Jaya dalam merespons tantangan zaman.
Di akhir malam, pesan yang tersisa jelas: SWI Jaya tidak ingin menjadi organisasi yang stagnan. Dengan mempererat silaturahmi dan memperkuat pondasi ekonomi, mereka berupaya membuktikan bahwa solidaritas wartawan dapat diterjemahkan menjadi kekuatan nyata baik untuk melindungi anggotanya maupun untuk menjaga integritas informasi bagi masyarakat.