Era Baru Imigrasi Jakbar Manjakan Pemohon Paspor
Jakarta, Ballebale.com – Mengurus paspor selama ini identik dengan datang ke kantor imigrasi, menyiapkan dokumen, lalu mengikuti tahapan pelayanan yang tersedia. Namun, pola itu mulai berubah.
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat kini mencoba membalik cara pelayanan tersebut. Bukan hanya menunggu masyarakat datang, tetapi menghadirkan layanan lebih dekat ke tempat mereka beraktivitas dan membutuhkan pelayanan.
Berbagai terobosan itu resmi diluncurkan dalam acara di Hotel Mercure Jakarta Batavia, Jakarta Barat, Selasa (1/9/2026). Acara tersebut turut dihadiri Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah.
Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat Rakha Sukma Purnama mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk membuat pelayanan keimigrasian lebih mudah diakses dan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Melalui peluncuran berbagai inovasi ini, kami berkomitmen menghadirkan pelayanan keimigrasian yang semakin mudah diakses, responsif, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Rakha.
Layanan Paspor Mulai Keluar dari Gedung Kantor
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah KIBAR Melati.
Program ini menghadirkan pelayanan paspor secara jemput bola bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus di rumah sakit.
Bagi pemohon dalam kondisi tertentu, datang ke kantor imigrasi tentu bukan perkara sederhana. Karena itu, petugas hadir lebih dekat untuk memberikan pelayanan.
Konsep serupa juga dikembangkan melalui Sahabat KIBAR.
Bedanya, layanan ini membawa pelayanan paspor ke lokasi yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, termasuk pusat perbelanjaan.
Dengan dua pendekatan tersebut, pelayanan paspor tidak lagi semata-mata bergantung pada keberadaan pemohon di kantor. Pelayanan justru didorong untuk mendekati masyarakat.
Ada KIBAR Connect untuk Menampung Keluhan
Perubahan juga terjadi pada pola komunikasi. Imigrasi Jakarta Barat memperkenalkan KIBAR Connect atau Key Information Base and Accessible Response Channel of Information and E-Complaint Tracking.
Kanal ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi sekaligus menyampaikan saran, masukan, dan pengaduan.
Kehadiran kanal tersebut membuat hubungan antara masyarakat dan Imigrasi Jakarta Barat tidak berhenti ketika proses pelayanan selesai.
Masyarakat dapat menyampaikan pengalaman, kendala, maupun masukan yang dapat menjadi bahan evaluasi pelayanan.
KIBAR Connect dirancang agar komunikasi tersebut dapat dilakukan melalui mekanisme luring maupun kanal digital.
Tak Hanya Paspor, Izin Tinggal Ikut Diperkuat
Inovasi yang dikembangkan Imigrasi Jakarta Barat juga tidak berhenti pada layanan paspor. Pembenahan turut menyasar pelayanan izin tinggal dan status keimigrasian.
Artinya, transformasi diarahkan untuk menjangkau kebutuhan pelayanan keimigrasian yang lebih luas.
Jika layanan paspor menjadi salah satu wajah yang paling sering bersentuhan dengan masyarakat, layanan izin tinggal menjadi bagian penting dalam pelayanan keimigrasian bagi warga negara asing.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya mengejar kemudahan administratif, tetapi juga berupaya membangun pelayanan yang lebih adaptif.
Di Balik Layanan Digital, Ada Sistem yang Harus Dijaga
Semakin banyak layanan memanfaatkan teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap jaringan dan keamanan sistem.
Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Tikim) Imigrasi Jakarta Barat Siti Adytia mengatakan infrastruktur jaringan telah disiapkan untuk mendukung pelayanan digital.
“Untuk jaringan internet kami sudah sangat siap dan didukung fasilitas modem dengan spesifikasi yang mumpuni. Kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam penyediaan jaringan internet berkualitas tinggi,” kata Siti.
Menurut Siti, kesiapan tersebut juga harus dibarengi dengan langkah pencegahan terhadap berbagai potensi gangguan.
Termasuk kemungkinan gangguan jaringan hingga ancaman serangan siber. “Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk gangguan jaringan sampai serangan siber, kami juga sudah menyiapkan perangkat sekuritas yang dibutuhkan,” ujarnya.
Dengan dukungan tersebut, berbagai kanal digital seperti website, aplikasi, dan media sosial diharapkan dapat menunjang pelayanan kepada masyarakat.
Namun, Siti menegaskan kewaspadaan tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan sistem.
“Kami tetap melakukan mitigasi dan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan sistem. Jadi, digitalisasi ini tidak hanya berbicara tentang aplikasi, tetapi juga bagaimana memastikan sistemnya aman, jaringan tersedia, dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” tuturnya.
Pembenahan Diam-diam yang Tak Kalah Penting
Selain layanan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, Imigrasi Jakarta Barat juga membenahi sisi internal.
Salah satunya melalui BMN Care. Inovasi tersebut mendukung pencatatan dan pelaporan kondisi Barang Milik Negara (BMN) secara lebih sistematis melalui sistem digital.
Meski tidak terlihat langsung oleh pemohon, pengelolaan internal semacam ini memiliki peran dalam menjaga tertib administrasi dan mendukung operasional pelayanan.
Dengan kata lain, transformasi tidak hanya terjadi di depan loket. Ada pembenahan yang berlangsung di balik layar.
Rakha: Jangan Berhenti Jadi Program
Rakha menekankan bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada saat peluncuran. Menurut dia, setiap program harus terus dijalankan dan dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami berkomitmen menjadikan setiap inovasi ini tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi dapat terus diimplementasikan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Pernyataan itu menjadi penting karena inovasi pelayanan publik pada akhirnya tidak diukur dari seberapa meriah peluncurannya.
Masyarakat akan menilai dari pengalaman mereka ketika menggunakan layanan tersebut.
Dari Kantor ke Tengah Masyarakat
Rangkaian inovasi Imigrasi Jakarta Barat memperlihatkan arah perubahan yang cukup jelas. KIBAR Melati mendekatkan layanan kepada pemohon yang membutuhkan pelayanan di rumah sakit.
Sahabat KIBAR membawa layanan paspor ke pusat aktivitas masyarakat. KIBAR Connect membuka ruang komunikasi, informasi, dan pengaduan. Layanan izin tinggal dan status keimigrasian diperkuat.
Sementara BMN Care membenahi pengelolaan internal. Semua itu ditopang infrastruktur jaringan dan perangkat keamanan. Pada akhirnya, teknologi hanyalah salah satu bagian dari perubahan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membuat pelayanan semakin dekat dengan masyarakat.
Imigrasi Jakarta Barat kini mencoba membawa pesan sederhana: pelayanan publik tidak harus selalu menunggu masyarakat datang. Dalam model pelayanan yang terus berubah, justru negara yang dituntut untuk bergerak lebih dekat.
Dan dari Jakarta Barat, perubahan itu mulai dirancang melalui berbagai inovasi yang menghubungkan layanan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem. (ELN)